Rabu, 29 Januari 2014

Religion kok Violence?!

Beberapa tahun belakangan ini sering muncul istilah yang bisa dibilang baru dan asing, yaitu religion violence. Kita sudah sering mendengar kata religion, karena walau masih banyak korupsi negeri ini terkenal religius. Masjid tersebar dimana, di pojok-pojok setiap instansi pemerintah pasti ada. Gereja juga tidak sulit ditemui, begitu juga tempat-tempat ibadah lainnya. Sedangkan violence, kita juga sudah terbiasa dengan istilah tersebut, bahkan sudah sangat akrab. Dari jaman Belanda rakyat kita sudah sering disiksa, pun begitu Londo ireng yang berkuasa di kemudian hari juga masih hobi menyiksa dan membunuhi anak bangsanya sendiri.

Tapi kalo religion violence? Rasanya kok aneh. Kenapa religion yang identik dengan kesucian, kemuliaan akhlak, dan kesalehan sosial, bisa disandingkan dengan violence yang merupakan perwujudan dari hilangnya rasa kemanusiaan, kemunduran peradaban, dan keserakahan yang memuncak. Kontradiktif, ironis.

Kalo dulu tindakan violence sering dilakukan oleh penjajah asing, pemerintah yang represif, dan pemilik modal yang serakah, kini kelompok yang mengaku sebagai pencinta religion ikut ambil bagian. Sudah tak terhitung kasus nyata yang terjadi dalam dasawarsa belakangan ini. mulai dari bom bali, bom natal, bom kuningan, pengrusakan tempat ibadah, pembantaian kelompok minoritas, dan, cukup! Tak sanggup lagi aku menyebutkan. Terlalu menyakitkan.

Dan ironisnya, kelompok pelaku kekerasan, seperti jaringan teroris, Front Pembela Islam, kelompok jihad, dan kelompok lain yang begitu bangga ketika beraksi melakukan berbagai kerusakan. Di tengah peran negara yang lemah dan tidak bisa diharapkan, mereka semakin menjadi-jadi. Religion mereka jadikan motivasi untuk memukul, menendang, dan meledakkan. Pelaku violence pun tinggal ongkang-ongkang kaki, tugasnya sudah tergantikan oleh para pemburu tiket ke surga yang dungu itu.
Entah siapa yang salah? Karena setahuku religion (apapun itu) sejatinya mengajarkan kebaikan. Semua pendiri religion merupakan orang saleh yang justru harus menghadapi siksaan dari para pelaku violence, yang seringkali melampaui batas. Musa (Moshes) berjuang menyelamatkan kaum israel dari kekejaman Fir’aun Mesir, Isa (Yesus) menentang rabi-rabi Yahudi yang menjadi kaki-tangan penjajah Romawi, Nabi Muhammad SAW rela dimusuhi oleh kelompok jahiliah untuk menegakkan keadilan sosial, begitu juga dengan Budha Gautama, Kong Hu chu, dan pemimpin-pemimpin agama lainnya.
Tapi kini, pelaku violence adalah yang mengaku pecinta religion itu sendiri. Dengan berbagai dalih tentunya, mulai dari beda keyakinan, beda aliran, beda mahzab, dan lain sebagainya yang seharusnya bisa diseleseikan dengan bijak. Bukankah komitmen kepada keesaan Tuhan seharusnya melahirkan komitmen untuk menjaga kemanusiaan? Bukankah menyakiti satu manusia (terlebih manusia yang lemah) sama saja dengan menyakiti manusia seluruhnya?

Seandainya yang mereka lakukan adalah untuk membela Tuhan, maka seharusnya mereka tahu bahwa Tuhan itu maha besar, tak perlu dibela. Justru Tuhan lah yang menyelamatkan umatNya yang teraniya. Terbelahnya laut merah, diangkatnya Isa ke langit-Nya, serta campur tangan pasukan malaikat dalam perang badar hanyalah sedikit contoh dari kebesaran Tuhan, yang ironisnya, justru dikerdilkan oleh para pecinta religion tersebut.
Apakah pemimpin-pemimpin mereka tak pernah mengajarkan pedoman dasar tersebut? Atau jangan-jangan semua violence itu dilakukan memang bukan untuk Tuhan. Lalu untuk apa? Uang? Popularitas? Atau sekedar nasi bungkus? Entah lah. Aku bertanya pada mbah kakung, beliau malah balik bertanya keheranan “Opo le?! Religion kok violence?”


Senin, 27 Januari 2014

Efek Globalisasi Paha

Hari ini, apa yang tidak bisa dikonsumsi publik? Media punya kekuasaan mutlak dalam hal menentukan batasan-batasan yang kian kabur tersebut. Mulai dari aib pejabat, ukuran BH artis, dan yang paling banter diler-ler di hadapan publik saat ini adalah salah satu rahmat Tuhan yang sangat indah, paha wanita.

Rahmat? Eits, jangan emosi dulu. Memang kelihatan tabu mencampur-adukkan urusan paha dengan rahmat Tuhan, tapi marilah berpikir realistis. Bukan kah paha wanita itu indah? Apalagi yang mulus-mulus. Itulah rahmat Tuhan yang memancar kemana saja, ke siapa saja, tak peduli dengan kadar ketakwaannya. Seperti halnya jika kita mencuri uang (ini hanya perumpamaan, jangan dipraktekkan), lalu uang tersebut kita bawa ke soto Cak Har. Tetap enak kan rasa soto itu? Ya, itulah rahmat. Tapi kalau ditanya barokah atau tidak soto yang kita makan tersebut, itu masalah lain.

Kembali lagi ke masalah rahmat Tuhan yang berupa paha wanita. Paha wanita merupakan realitas alam, keberadaannya tak perlu lagi dipertanyakan. Karena jikalau Tuhan tidak bermurah hati menitipkan keindahannya pada bagian tubuh wanita yang paling dekat dengan inti kehidupan tersebut, mungkin populasi manusia tak akan bisa sebanyak ini. Peradaban manusia pun terancam tak berkembang karena tidak ada motivasi. Seni dan budaya juga akan mandek karena kurangnya inspirasi.

Keindahan paha tersebut hanya akan menjadi barokah jika sudah disertifikasi. Apa bentuk sertifikatnya? Ya surat nikah. Selain itu, paha yang dipamerkan tanpa sertifikat, entah itu di studio film, di lokalisasi, maupun di ruang istirahat anggota DPR tentu saja tidak barokah. Kalau kita bicara dalam konteks benar-salah dalam agama, maka “pameran” tersebut adalah hal yang salah yang seharusnya tidak dilakukan.

Memang, dorongan nafsu dan desakan ekonomi seringkali membuat manusia nekat melanggar term benar-salah dalam agama. Namun setidaknya, term elok-tidak elok dalam tata nilai sosial selama ini telah melokalisir kesalahan tersebut sehingga tidak ditunjukkan di hadapan publik. Rasa malu membuat para pemilik paha hanya mau memamerkan kehormatannya tersebut di ruang-ruang private, paling banter ya dipamerkan khusus untuk kalangan yang sengaja berbuat salah, seperti di sampul majalah khusus dewasa maupun film-film biru yang juga tidak elok untuk dikonsumsi berjamaah.

Namun, kuasa media nampaknya telah mengantarkan peradabaan kita menuju sebuah era baru pengelolaan paha. Gempuran budaya populer dari luar negeri telah habis-habisan melumpuhkan pondasi nilai-nilai agama dan sosial remaja kita saat ini. Idola-idola baru yang bermunculan dari negeri antah berantah di utara sana seolah mengajarkan “Hey anak muda Indonesia, ini loo pahaku, mana pahamu?”. Dan entah karena silau atau karena tidak cukup uang untuk membeli celana panjang, pemudi-pemudi kita pun ramai mengikuti seruan tersebut. Bukan hanya pemudi, karena pemuda-pemuda pun juga telah abai dengan norma sosial dengan tanpa malu secara berjamaah menikmati aksi tersebut.

Yang terjadi selanjutnya adalah harga paha wanita menjadi semakin murah, bahkan lebih murah dari harga paha di warung-warung penyetan sekitar kampus. Tidak lagi dijual di ruang-ruang private atau studio film, melainkan diobral murah meriah di panggung hiburan umum, di acara-acara yang berdimensi umum, dan ada pula yang benar-benar digratiskan, siapapun boleh lihat. Pelakunya pun bukan lagi orang-orang yang telah matang secara usia (baik wanita maupun pria), melainkan juga anak-anak usia SMP berbadan bongsor yang barangkali tidak tahu betapa paha mulusnya itu telah sangat membuat penasaran. Entah apa namanya fenomena ini, sudah pantaskah disebut sebagai efek globalisasi paha?

Islam Yang Terasingkan

14 abad yang lalu Islam telah membawa perubahan yang sangat besar bagi peradaban di jazirah Arab yang sebelumnya sangat jahil (bodoh) dan terkotak-kotakkan oleh fanatisme kesukuan. Kecerdasan, keteguhan, dan kesabaran Nabi Muhammad SAW yang selalu dibimbing oleh wahyu pada akhirnya berhasil menyatukan seluruh suku-suku di jazirah arab ke dalam sebuah persaudaraan baru yang lintas suku, keturunan, maupun kelas ekonomi. Melalui Islam, Nabi SAW beserta generasi sahabat mampu membangun sebuah imperium baru yang tidak pernah diimpikan sebelumnya oleh penduduk padang pasir gersang, yang mana selama ratusan tahun tidak diperhitungkan keberadaannya oleh dua kekuatan adidaya kala itu, Kekaisaran Persia dan Byzantium.

Waktu itu Islam datang dengan semangat kemajuan yang jauh melebihi jamannya. Islam telah mengajarkan akhlak yang bisa dibilang revolusioner. Meruntuhkan budaya-budaya jahiliah yang saat itu telah dianggap umum dan wajar. Antara lain Islam mengajarkan untuk memuliakan wanita, memberi jatah warisan kepada mereka, dan melipatkan kemuliaan ibu tiga kali di atas bapak. Padahal sebelumnya masyarakat pra-Islam sangat merendahkan kaum wanita, bahkan memiliki anak wanita dianggap sebagai aib sehingga merupakan hal yang lumrah ketika seorang bapak tega mengubur putrinya hidup-hidup untuk menutupi rasa malu.

Selain itu, Nabi SAW juga meletakkan pondasi dasar bagi kemanusiaan yang sangat modern, yaitu menyama ratakan semua manusia tanpa terkecuali atas dasar tauhid. Hanya Allah lah yang pantas disembah, dan kadar ketakwaan kepada-Nya lah yang menentukan kemuliaan seorang manusia. Tidak peduli kaya-miskin, pria-wanita, maupun tuan-budak. Sebuah paham persamaan yang mengantarkan Islam -yang lahir dan tumbuh di tempat yang terasing dari peradaban dunia- nantinya menjadi sebuah pusat peradaban besar dengan kemajuan di segala bidang yang meliputi politik, ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan-teknologi.

Namun, setelah 14 abad berlalu keadaan seperti berbalik 180 derajat. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas penduduknya muslim seolah-olah termajinalkan oleh kemiskinan dan kebodohan, serta tidak memiliki posisi tawar yang kuat di percaturan politik dunia. Kita ambil data kasar saja, dari 100 universitas terbaik di dunia, tak satupun yang berada di negara yang penduduk mayoritasnya muslim. Sebagian besar masih berkutat dengan masalah kemiskinan dan konflik perebutan kekuasaan di dalam negeri. Sedangkan negara muslim yang kaya karena cadangan minyak juga seolah-olah melempem di tengah cengkeraman negara-negara barat yang menjadi tuannya.

Hal inilah yang menyebabkan perasaan inferior di dunia Islam terhadap negara-negara barat (menurut pengkategorian peradaban ala Samuel Huttington) yang bisa dikatakan sebagai pemimpin lokomotif peradaban saat ini. Rasa inferioritas ini kemudian diekspresikan melalui dua tindakan yang sama-sama destruktif. Pertama, adalah silau yang berujung pada sikap membebek kepada semua kemajuan yang telah dicapai oleh barat tanpa filter. Semua ditiru, mulai dari model pemerintahan, sistem ekonomi, sampai dengan kebudayaannya. Tak tersisa lagi spirit Islam yang mengedepankan ukhuwah berdasarkan persamaan, pemerataan pendapatan yang melarang penumpukan modal, dan komitmen keimanan yang diwujudkan melalui kesalehan sosial.

Ekspresi kedua adalah sikap anti barat yang berlebihan, yang pada akhirnya bermuara pada terorisme dan gerakan Islam ekstrimis. Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang sempat menggegerkan itu lahir dari sikap inferior model ini. Selain itu, ada juga gerakan ekstrimis yang melarang semua hal berbau barat di wilayah yang dikuasainya, termasuk juga pendidikan dan kesehatan. Di Pakistan terdapat ratusan bayi lumpuh karena taliban yang berkuasa disana melarang adanya vaksinasi polio. Dari sini wajah dunia Islam terlihat sangat kaku, terbelakang, dan muram. Ditambah dengan propaganda dari media-media pesanan barat, Islam menjadi semakin terpinggirkan.

Dari situlah dibutuhkan sikap alternatif bagi dunia Islam untuk menghadapi hegemoni dunia barat. Tidak membebek karena Islam memiliki nilai-nilai luhur berdasarkan Tauhid yang harus diamalkan, tidak juga dengan sikap anti yang berlebihan karena Islam merupakan agama paripurna yang pondasi-pondasi keyakinannya tidak akan runtuh dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Melainkan yang harus menjadi agenda utama umat islam adalah menengok kembali nilai-nilai dasar islam yang telah diwariskan oleh Nabi SAW sebagai modal perjuangan. Pendidikan rasional yang berdasarkan tauhid, persamaan dan persaudaraan antar umat yang tidak membeda-bedakan suku atau kelas sosial, serta etos kerja yang pamrihnya hanya pada ridha Allah harus benar-benar dimantapkan kembali sebagai bahan bakar perjuangan umat Islam. Tanpa perlu mengungkit-ungkit perbedaan mahzab yang sifatnya hanya permukaan belaka.

Gerakan-gerakan islam yang hanya menjual slogan-slogan utopia serta romantisme masa lalu harus segera ditinggalkan. Umat islam harus mulai secara realistis merumuskan berbagai permasalahan yang mengakibatkan mandeknya peradaban lalu dengan bijak mencari solusi bersama dengan bekal ilmu yang dimiliki (sekali lagi, masalah umat islam tidak akan selesai hanya dengan slogan-slogan dan rangkaian takbir kosong). Kemiskinan, kebodohan, dan ketidak mandirian dalam hal ekonomi dari negara-negara barat merupakan masalah serius yang harus dihadapi mayoritas negeri muslim saat ini.

Ilmu pengetahuan dan teknologi dari barat juga harus diserap habis-habisan secara rasional, bukan hanya dengan terus-menerus mengklaim bahwa penemuan-penemuan yang telah dicapai oleh ilmuwan barat ternyata sudah ada di dalam Al-Qur’an. Sikap ‘main klaim’ seperti itu memang membanggakan pada awalnya, tapi selanjutnya akan melenakan dan mematikan semangat untuk melakukan penelitian-penelitian. Semua digantungkan pada barat, nanti kita tinggal mengklaim penemuan mereka telah terdapat dalam Al-Qur’an. Bukan, bukan seperti itu seharusnya ilmu pengetahuan dalam Islam diterapkan. Melainkan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai motivasi untuk menguak misteri-misteri yang dihidangkan Allah di alam raya ini.

Dan tentu saja pola perjuangan Islam tidak harus disamakan dengan pola perjuangan zaman dulu yang lebih banyak berbicara tentang Islam sebagai lembaga formal dengan berbagai macam penaklukan militernya. Pola tersebut sudah bisa dianggap kuno dan kehilangan kontekstualnya. Melainkan yang harus dilakukan adalah menghadirkan Islam sebagai kekuatan baru dunia yang memiliki nilai tawar tinggi di bidang pendidikan, ekonomi, dan percaturan geopolitik. Dunia barat juga tidak harus dianggap sebagai musuh peradaban (seperti yang diungkapkan Huttington), melainkan sebagai sparring partner untuk berlomba-lomba dalam hal kemajuan peradaban, meskipun harus diakui bahwa gesekan-gesekan kecil antara dua peradaban besar memang tidak bisa dihindari.


Islam bisa lahir dan berkembang di daratan padang pasir yang gersang dan tanpa peradaban. Tujuh abad kemudian Islam juga mampu tumbuh subur di Nusantara yang saat itu merupakan pusat kebudayaan Hindu-Budha di dunia (Prambanan dan Borobudur merupakan “ka’bah”nya umat Hindu-Budha kala itu). Dan empat belas abad berlalu, sudah saatnya umat Islam kembali mewarnai kemajuan peradaban dunia. Meninggalkan belenggu kemiskinan dan kebodohan yang selama beberapa abad terakhir ini membuatnya terasing dan diasingkan. Namun sekali lagi, harus diingat pula bahwa Allah tidak akan mengubah nasib kita kecuali kita mengubahnya sendiri. Inilah tugas kita semua. Bismillah.

Rabu, 22 Januari 2014

YUK KICK this SHIT (Kita Tidak Butuh Televisi)

kita tidak butuh televisiKebohongan yang terus diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Sampah yang terus menerus disajikan (seolah-olah)akan menjadi makanan yang bergizi. Mungkin seperti itulah gambaran acara televisi di negeri ini. Acara lawak yang lebih banyak mengandalkan bully fisik dan verbal daripada kecerdasan membalik logika, acara musik yang penuh kepalsuan dengan (sok) menampilkan live performance padahal yang diputar adalah musik rekaman, sinetron basi yang ceritanya hanya berkutat pada perselingkuhan dan rebutan harta warisan, serta yang lagi ngetrend sekarang adalah YKS dan acara lain sejenisnya yang tidak menyuguhkan hal apapun kepada penontonnya selain sampah.

Masyarakat Indonesia yang memang sebagian besar masih setia pada televisi sebagai media hiburan yang murah dan simple hanya dijadikan komoditas untuk menarik pundi-pundi uang melalui iklan. Prinsipnya, semakin banyak acara ditonton, maka produsen-produsen akan semakin tertarik untuk menempatkan iklannya di sela-sela acara tersebut. Jadi, bisa dikatakan ini semua sebenarnya tentang bisnis, masyarakat yang menonton tidak mendapat apapun selain, ya itu tadi, sampah. Dan sayangnya, para pemilik televisi tidak memberikan balas jasa apapun pada para penonton setianya yang telah berasa menaikkan pendapatan iklan mereka, misalnya melalui siaran acara televisi yang mendidik, berita-berita yang berimbang dan akurat, maupun acara-acara musik/olahraga yang bermutu.

Belum lagi menjelang pemilu tahun 2014 ini, semua stasiun televisi mulai berlomba untuk mengarahkan penontonnya kepada suatu pilihan partai atau tokoh tertentu. Sudah bukan rahasia lagi kalo pemilik stasiun-stasiun televisi besar di negeri ini juga ikut bertarung di pemilu 2014. Sebut saja Surya Paloh (MetroTV), Aburizal Bakrie (Tvone), Hary Tanoe (MNC Media), juga tokoh-tokoh lain seperti Chairul Tanjung dan Dahlan Iskan. Berlipat gandalah musibah masyarakat karena menonton televisi. Selain dijadikan komoditas ekonomi pengeruk iklan, juga dijadikan sebagai komoditas politik untuk meraih kekuasaan.

Untuk itu, sudah saatnya kita semua sadar bahwa tidak ada manfaat yang didapat dari menonton televisi. Justru mudharatnya sangat besar jika kita terus mempercayai televisi sebagai media hiburan dan pusat informasi. Mudharat-mudharat yang akan menimpa kita jika kita terus-terusan menonton televisi antara lain :

  1. Menimbulkan rasa malas. Menonton televisi berjam-jam merupakan kegiatan yang kontra produktif dan tidak memiliki nilai tambah. Kita akan menjadi malas melakukan pekerjaan karena tidak mau beranjak dari tempat duduk kita yang nyaman di televisi. Pekerjaan rumah terbengkalai, cucian menumpuk, ibadah pun juga ditunda-tunda.
  2. Merampas kebersamaan keluarga. Waktu efektif berkumpul bersama keluarga (seusai magrib sampai menjelang tidur) biasanya diisi dengan menonton televisi bersama. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah televisi sedang merampok waktu kebersamaan kita bersama keluarga. Karena dengan begitu komunikasi antar anggota keluarga tidak akan terjalin mesra dan intens, anak-anak akan merasa risih untuk curhat, dan orang tua pun juga tidak akan bisa memberikan nasehat-nasehat dengan leluasa di tengah-tengah acara sinetron basi yang selalu menampilkan kelicikan dan keculasan di setiap alur ceritanya.
  3. Anak-anak kehilangan waktu bermain. Butuh kedewasaan untuk memilih mana yang terbaik dan bermanfaat untuk dirinya, dan tentu saja anak-anak tidak tahu hal tersebut. Bagi mereka yang penting adalah menarik, lagi ngetrend, dan banyak hingar bingarnya. Anak-anak jelas tidak sadar bahwa semakin banyak waktu yang dia gunakan untuk menonton televisi, maka semakin banyak waktu masa kecilnya yang terbuang sia-sia. Jadi, merupakan kewajiban kita sebagai orang dewasa untuk mengarahkan anak-anak agar lebih banyak menghabiskan masa kecilnya untuk bermain di luar bersama teman-teman sebayanya, membaca buku ensiklopedia, mengaji bersama, atau melakukan kegiatan outbond yang bisa melatih kecerdasan motoriknya.
  4. Terprovokasi oleh informasi yang tidak berimbang. Secara awam bisa dilihat bahwa berita-berita yang muncul di televisi semakin lama semakin tidak memihak pada kepentingan publik, melainkan mengarah pada kepentingan tertentu dari pemilik stasiun televisi. Maka antar stasiun televisi pun saling memojokkan serta saling membanggakan partai dan tokoh tertentu, dengan sumber yang diragukan kevalidannya. Sajian ini bisa berakibat buruk bagi masyarakat Indonesia yang kebanyakan tidak sadar dan masih mempercayai televisi sebagai sumber informasi utama.
Empat mudharat tersebut sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alasan bagi kita semua untuk mengurangi dan (kemudian) berhenti menonton televisi. Tidak ada take and give  yang seimbang antara pemilik stasiun televisi dengan penonton setianya. Yang ada hanyalah eksploitasi antara satu pihak ke pihak lainnya demi kepentingan bisnis dan kekuasaan.

Daripada menonton televisi, secara pribadi saya lebih menyarankan untuk menonton film, drama musikal, atau acara talkshow luar negeri yang mendidik sebagai media hiburan bersama keluarga. Sedangkan untuk sumber informasi, saya pikir itu sudah bukan lagi monopoli televisi. Di media sosial sudah bertebaran informasi yang bisa kita pilah-pilah mana yang berbobot mana yang tidak. Bahkan di twitter sudah banyak terdapat akun-akun tokoh Indonesia yang dikelola secara pribadi sehingga kita bisa mendapat informasi langsung dari sumbernya.

Dan seandainya mau kompak, sebenarnya penonton lah yang berkuasa atas pemilik stasiun televisi. Karena tanpa penonton, tidak ada pemasukan dari iklan. Sayangnya masih banyak penonton-penonton terbodohi, yang semakin diberi sampah malah semakin bersorak kegirangan. Maka tak aneh jika rating acara YKS semakin tinggi, walaupun setiap hari (selama 4 jam) hanya menyajikan lawakan-lawakan basi, makian kasar, dan goyangan bodoh yang anehnya semakin digemari. Apa mereka sudah melihat sampah-sampah tersebut sebagai makanan yang bergizi? Entahlah.

Senin, 20 Januari 2014

Cinta Putih Rahwana

Dialah Rahwana, raja Alengkadireja yang lebih dikenal sebagai penguasa kegelapan. Semua hal buruk selalu dinisbatkan kepadanya. Bahkan semenjak lahir pun sudah dianggap sebagai anak haram, hasil hubungan yang tidak dikehendaki antara Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Wajahnya tak terhitung jumlahnya, berserakan tak beraturan. Sama sekali tak nampak indah di mata orang kebanyakan. Kelakuannya pun bisa dibilang kurang ajar, yaitu menculik istri orang selama bertahun-tahun. Sungguh tak elok dan tidak sesuai dengan tata laku kesopanan secara umum.

Namun, apapun kata orang tentang dirinya dan kedua orangtuanya, Rahwana tidak pernah ambil pusing. Dia mengenal betul siapa ayah dan ibunya dan meyakini bahwa mereka telah dijebak oleh para dewa yang sering berlaku licik, sehingga tumbuhlah benih yang mewujud dirinya. Toh, walaupun dikenal sebagai penguasa kegelapan, Rahwana mampu membawa negeri peninggalan kakeknya, Prabu Sumali, menjadi negeri yang makmur, aman, dan sejahtera. Bahkan semenjak usia 15 tahun dia telah menguasai ilmu Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang diwarisi dari sang ayah. Sebuah ilmu langka dan rahasia, konon hanya para dewa lah yang boleh tahu tentang ilmu tersebut.

Rahwana menganggap kalau jalan hidup dan perannya di dunia yang semu ini sudah diatur dan ditetapkan oleh Sang Hyang Widhi, sehingga apapun yang dikatakan orang dia tak peduli. Tak jadi soal ketika dia disebut sebaga Dasamuka penguasa kegelapan dan dimusuhi karena telah mencintai wanita yang telah bersuami, yaitu Dewi Sinta. Nampaknya Rahwana telah ikhlas menjalani takdirnya tersebut karena dia yakin bahwa kehidupan di dunia ini harus seimbang, tak boleh hanya ada putih di dalamnya.

Kekurangajarannya menculik Dewi Sinta pun juga bukan tanpa alasan, melainkan karena dorongan rasa cinta yang begitu besar kepada titisan Dewi Sri ini. Terbukti setelah menculik Dewi Sinta dari suaminya, Prabu Rama Wijaya, Rahwana tidak langsung menjamah atau menyekapnya, melainkan menempatkan Dewi Sinta di taman Argasoka. Konon taman Argasoka ini merupakan replika dari keindahan surga yang ada di kahyangan. Selama sebelas tahun Shinta dimuliakan di taman ini, tanpa dijamah sedikitpun apalagi disakiti oleh Rahwana. Setiap hari, selama bertahun-tahun Rahwana datang untuk menyatakan cinta kepada Shinta secara sopan, setiap hari pula hatinya remuk redam mendengar penolakan Shinta. Walaupun begitu tak sedikitpun sikap Rahwana berubah, cintanya terlalu tulus kepada istri penguasa negeri Ayodya tersebut. Dan walaupun tak henti-hentinya menolak tawaran Rahwana, diam-diam Shinta mengagumi kegigihan hati Rahwana sekaligus mempertanyakan sang suami yang tak kunjung menyelamatkannya.

Kegetiran hati Shinta mencapai puncaknya tatkala dia hanya mampu menolak tawaran Rahwana melalui gelengan pelan, tanpa kata dan tanpa suara. Bahkan air matanya sempat menitik tatkala mendengar suara raungan yang menggelegar ke seantero Alengkadireja. Suara kekecewaan dan ungkapan cinta tak berbalas dari seorang raksasa yang penuh cinta.

Wahai
Sang penguasa semesta
Adakah yang salah dari hamba?
Akulah Rahwana, Raja Alengkadireja
Negara adidaya dengan keamanan yang selalu terjaga
Rakyat Alengkadireja demikian aman, damai, dan sejahtera
Orang-orang dari negara manca
Kini datang dan bermukim di kerajaan Alengkadireja
Mengapa Alengkadireja seperti belum kunjung sempurna?

Aku tidak berniat mempersoalkan
Mengapa tela Engkau lahirkan diriku sebagai raksasa

Dari benih yang tertanam tidak dengan semestinya
Sosok menakutkan yang dibenci penghuni semesta
Dan ditakuti oleh para dewa di kahyangan
Aku Prabu Rahwana hanya mau bertanya
Salahkah bila aku memiliki keagungan Cinta?
Aku sudah sangat rela dan menerima
Jika dianggap anak jadah pembawa petaka
Yang tak punya santun merusak kahyangan para dewa
Tapi salahkah, bila aku mempertahankan Cinta?

Segala dunia telah aku injak dan kurasa
Aji dan ilmu rahasia telah terbenam dalam jiwa dan raga
Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu aku pun kuasa
Salahkah jika aku bersikukuh memelihara Cinta??

Bila Engkau, wahai Sang Penguasa Semesta…
Tidak memperkenankan Cinta yang kusemai dan pelihara
Mengapa Engkau tidak musnahkan saja keberadaannya
Bila Engkau juga menghendaki segalanya harus sempurna
Mengapa hamba hanya mendapatkan kegelapan semata?

Apakah karena aku lahir tanpa perkenan semesta
Lantas aku diharamkan untuk memiliki keagungan cinta?

Haaahh!!!!
Biarlah aku mati dicabik-cabik panah Rama Wijaya
Atau ditembus keris sakti Laksmana
Asalkan segenap semesta bersaksi dengan saksama
Aku memiliki Cinta Agung di dalam dada...

Hati wanita mana yang tak luluh mendengar pengakuan jujur dari seorang lelaki yang begitu ksatria dalam mengungkapkan cintanya, tak ada malu ataupun merasa rendah.  Shinta berusaha menutup telinganya, tapi percuma. Kata-kata Rahwana tersebut tidak meluncur ke telinganya, melainkan langsung menghujam ke jantungnya. Barangkali kini Shinta telah terjebak di wilayah yang sangat genting antara perasaan terdalamnya dan nilai-nilai moral serta kesetiaan yang mengikat dirinya sebagai wanita bersuami.

Dan akhirnya, lakon Rahwana sebagai penguasa kegelapan memang harus berakhir. Dengan bantuan dari pasukan kera Anoman dan penghianatan Gunawan Wibisana yang merupakan adik kandung Rahwana, Prabu Ramawijaya berhasil mengalahkan negeri Alengkadireja dalam peperangan brubuh. Sang Dasamuka sendiri harus kembali kepada Sang Penciptanya dengan diantar oleh panah Guhywawijaya, senjata pamungkas milik Prabu Rama. Dengan dimikian kembali lah Shinta ke pangkuan Rama setelah berhasil membuktikan kesuciannya di hadapan Dewa Agni dengan cara dibakar hidup-hidup.

Mengira hidupnya akan berakhir bahagia sebagai pendamping Rama Wijaya sebagai permaisuri Negeri Ayodya, ternyata Shinta salah. Penderitaan harus kembali ia rasakan. Setelah satu tahun kembali hidup bersama, muncul desas-desus diantara rakyat negeri Ayodya yang mempertanyakan kesucian dan kesetian permaisuri sang Raja. Rama Wijaya sangat terganggu dengan kabar tersebut, walaupun istrinya telah membuktikan kesetiaan kepadanya di depan Dewa Agni. Dan karena sudah tidak tahan dengan kecurigaan dan kesangsian orang-orang di seluruh kerajaan atas kesetiaan istrinya, Rama Wijaya akhirnya memerintahkan agar Shinta dibuang ke hutan di tepian sungai Gangga. Leksmana, adik kandung Rama, yang diberi tugas untuk membuang Shinta sebenarnya tidak tega dan melaksanakan perintah kakaknya tersebut. Namun perintah tetaplah perintah, harus dijalankan walaupun dengan separuh hati.

Akhirnya leksmana berangkat membawa kakak iparnya menuju ke Sungai Gangga. Dan setelah sampai di tempat tujuan, leksmana kemudian menurunkan Shinta dan memberitahukan bahwa Sang Prabu telah memerintahkan untuk membuang dirinya. Dewi Shinta, yang telah menjaga kesetiaannya selama sebelas tahun di taman indah Argasoka akhirnya ditinggalkan di dalam hutan. Sendiri, dalam keadaan sedang mengandung anak Rama Wijaya.
Batin Dewi Shinta nelangsa. Dia teringat betapa dulu selama bertahun-tahun Rahwana benar-benar memuliakannya, tanpa menyentuh sedikitpun apalagi menyakiti. Namun, kini Dewi Shinta hanya bisa menyesali kemalangan nasibnya dan berusaha untuk selalu berfikir positif tentang keputusan yang telah diambil oleh suaminya.

Dalam keheningan, Dewi Shinta menghabiskan waktu dengan memberi wejangan kepada anak kembarnya yang masih ada di dalam kandungan,

Lawa dan Kusya, Putraku…
Kelak, jadilah kalian ksatria sejati
Yang memiliki pandangan setajam rajawali
Setajam pandangan prabu Rahwana
Yang lebih memilih kesejatian
Ketimbang mempersoalkan dirinya
Yang berwujud raksasa Dasamuka
Hadapi dan terimalah keutuhan hidup
Dan kehidupan secara apa adanya
Menyeluruh jangan sepenggal-penggal
Karena warna putih sinar matahari
Sesungguhnya adalah kumpulan puluhan warna
Termasuk yang hitam kelam…


Sabtu, 18 Januari 2014

Segala Puji Memang Hanya Untuk-Mu (Go to Semeru Seri 5 – Habis)

Segala hal yang tidak membunuh, hanya akan membuatmu menjadi lebih kuat.(anonymous)
Hari sudah semakin siang. Kawah jonggring saloka juga sudah beberapa kali meletus, mengeluarkan semburan awan yang sangat indah dijadikan background foto. Kami semua harus cepat-cepat turun, karena setelah jam 9 pagi arah angin akan berubah dan membawa gas beracun ke arah puncak Mahameru. Gas beracun yang membuat Soe Hok Gie dan rekannya, Idhan Lubis, meregang nyawa dalam pendakian pertamanya di puncak setinggi 3676 meter di atas permukaan laut ini. Ya memang begitulah sifat sang alam, selalu menyimpan bahaya mematikan di setiap keindahannya.

Jam setengah delapan pagi, bersama sembilan orang teman (teman-teman yang lain sudah turun ketika aku belum mencapai puncak) aku mulai turun dengan perut keroncongan dan bibir yang kering dan mulai pecah-pecah. Kabarnya perjalanan menuruni puncak Mahameru sampai ke Arcapada hanya butuh waktu 3 jam. Sangat kontras jika dibandingkan perjalanan naik yang harus aku tempuh hampir selama 7 jam dengan memaksimalkan fungsi kedua kaki dan tanganku untuk merangkak. Rencananya di Arcapada aku ingin meminta barang sepotong roti ke pendaki yang nge-camp disana untuk sekedar mengganjal perut, aku yakin mereka tak akan keberatan.

Tapi kali itu Ahong yang memimpin perjalanan turun mengambil jalan lain. Kami menyingkir ke kiri dari jalur utama, dia bilang akan lebih cepat sampai. Waktu itu kami menurut saja karena memang belum pernah ke Semeru sebelumnya. Awalnya kami menikmati perjalanan turun ini. Tak perlu susah payah merangkak, tinggal tempelkan pantat ke pasir maka kita akan meluncur sendiri ke bawah. Namun keceriaan tiba-tiba menjadi hening setelah 3 jam lebih menuruni jalur pasir ini kami tak kunjung mencapai batas vegetasi. 4 jam, 5 jam, kami mulai panik. Dan setelah lebih dari 6 jam kami baru yakin kalau kami telah tersesat. Saat itu aku baru menyadari bahwa gunung itu seperti kerucut. Ketika di puncak, posisi berbeda 5 meter tak menjadi soal. Tapi jika kedua posisi tersebut ditarik lurus ke arah bawah, maka jarak 5 meter tadi akan menjauh sampai hitungan kilometer. Dan kenyataan buruk dari teori ruang bangun sederhana itulah yang kini sedang kami alami.

Untuk kembali naik dan pindah ke jalur yang semestinya sudah tidak mungkin, jarak sudah terlalu jauh dan motivasi kami bisa dibilang sudah anjlok. Belum lagi kondisi fisikku yang mulai menurun, badan meriang dan sudah beberapa kali muntah. Pening, sulit untuk berpikir jernih.

Lalu kami memutuskan untuk berbelok 90 derajat ke arah kanan agar bisa kembali ke jalur semula. Berbekal golok dan tongkat kayu, kami menerobos apapun yang ada di depan kami saat itu. Ilalang setinggi kepala dan jurang-jurang kami libas, yang penting ke arah kanan. Bergantian salah seorang dari kami menjadi martir di depan sebagai pembuka jalan. Tidak ada yang menyinggung perihal ular beracun atau binatang buas lain yang mungkin saja mendiami hutan ini. Saat itu memang tak ada lagi yang kami takutkan selain kelaparan dan dehidrasi jika terus menerus tersesat.

Tiga jam lebih, kami mulai putus asa. Ilham (angkatan 2011) mulai sering tertinggal jauh di belakang karena tertidur. Semua mulai hilang kesabaran. Aku hanya bisa duduk termenung, menyesali kelancanganku yang tidak izin kepada ibuk sebelum berangkat. Pasti beliau kawatir dan bertanya-tanya karena HPku tidak bisa dihubungi.

Tapi menyerah bukan lah pilihan, sekuat tenaga aku melakukan hal terakhir yang saat itu bisa kuusahakan, berteriak minta tolong. Aku memanggil-manggil Mas Totok, Mas Ricky, Faris, siapapun yang terlintas ketika itu. Sambil mengibarkan bendera HMI yang untungnya masih kubawa, kami semua berteriak minta tolong.

Menjelang pukul empat sore, kami mendengar sekilas suara sahutan. Tak jelas apa bunyinya, tapi serentak kami melonjak kegirangan karena yakin itu suara manusia. Dengan saling berteriak kami berkomunikasi, mereka mengarahkan kami untuk mengikuti petunjuknya. Kami menurut. Dan akhirnya dari kejauhan bisa kulihat mereka adalah Mas Totok, Mas Ricky, Rendra Baak, serta beberapa orang yang tidak kukenal. Setelah menuruni sebuah jurang lagi, akhirnya kami bisa bertemu dengan para penyelamat kami yang juga membawa golok untuk membuka jalan ke arah suara teriakan kami. Ada rasa syukur yang tak terkira, tak cukup dengan ucapan hamdalah, ketika melihat kembali kawan-kawan yang lain di camp Kalimati. Takjub, ternyata Tuhan masih berkenan menyelamatkan kami semua.

Setelah makan mie instan (lagi) dan minum kopi panas aku mulai mengemasi tas carrierku. Tenda-tenda sudah dilipat, saat itu juga kami satu rombongan, 28 orang, melanjutkan perjalanan turun. Sekitar pukul 8 malam kami sampai di Ranu Kumbolo. Dan karena kondisi fisik beberapa dari kami yang sudah drop karena kelelahan, maka diputuskan untuk menginap dulu di Ranu Kumbolo. Sayang, aku tak ingat malam itu aku bermimpi apa.
Foto terakhir di camp Kalimati

Seumur hidup, tak akan lupa pendakian ini.
Paginya kami melanjutkan perjalanan kembali, melewati jalur normal, tidak lagi aneh-aneh. Perjalanan yang relatif lebih mudah, tidak ada kendala yang berarti. Bahkan setelah pos I aku berlari-lari kecil sampai ke Ranu Pane. Lega sekali rasanya bisa kembali melihat rumah-rumah penduduk, warung makanan, dan tentunya kamar mandi. Dengan truk yang sama kami turun dari desa Ranu Pani menuju Pasar Tumpang, kemudian ke terminal Arjosari, seperti rute awal.

Dalam perjalanan pulang ini tak ada banyak pembicaraan diantara kami. Semua tengah sibuk merenungkan apa saja yang selama 4 hari ini dilihat dan diamali. Menikmati keindahan alam yang masih perawan, mendaki dengan penuh perjuangan melawan rasa takut dan putus asa, menjalin solidaritas dan saling menjaga satu sama lain, serta pengalaman tersesat berjam-jam di hutan tanpa air dan makanan. Ah, Tuhan, sungguh indah Kau atur semua sekenario ini untuk kami.

Alhamdulillah Engkau ijinkan kami melihat langsung keindahan alam Gunung Semeru,

Alhadulillah Engkau ijinkan kami merajut mimpi bersama bintang-bintang jatuh di Arcapada,

Alhamdulillah Engkau ijinkan kami menginjakkan kaki di puncak Mahameru yang penuh misteri,

Dan yang paling utama,

Alhamdulillah Engkau ijinkan kami menunaikan misi utama kami, yaitu membawa 28 orang anggota rombongan secara utuh, kembali ke Surabaya.

Alhamdulillah, memang segala puji hanya pantas Untuk-Mu. (tamat)

Note : Cerita sebelumnya ada di seri 1seri 2seri 3, dan Seri 4

Mahameru, Puncak Perjalanan (Go to Semeru Seri 4)

Rasa sakit karena berjuang hanyalah sementara, sedangkan rasa sakit karena putus asa akan berlangsung selamanya.

(anonymous)
Malam itu sangat gelap, tak ada terang lampu, hanya kelip bintang dan cahaya dari lampu senter kecil yang menerangi langkah kami. Di tengah hutan, di lereng gunung tertinggi di tanah Jawa, tempat para dewa bersemayam menurut epos Mahabaratha versi tanah air. Diiringi suara anjing hutan yang dalam pendengaranku lebih mirip suara lolongan serigala dalam film-film horor Eropa, kami bertekad untuk menuntaskan perjalanan yang telah kami mulai dua hari yang lalu. Inilah finalnya. Semua barang bawaan, tenda, dan tas carrier kami tinggal di pos Kalimati. Dalam pendakian final ini kami hanya membawa lampu senter, sedikit camilan, dan air minum satu botol untuk dua orang.

Langkah kami semua sangat hati-hati, menyusuri jalan setapak yang tak bisa kami lihat dapat kami rasakan kalau lebarnya tak lebih dari sejengkal sehingga kami harus berbaris satu banjar seperti ular. Berkali-kali kami berhenti sejenak kemudian berhitung, ada perasaan was-was, namun kemudian lega ketika hitungan sampai 25, sesuai dengan jumlah rombongan kami yang ingin menginjak pasir Mahameru. Semua fokus menghafalkan teman yang ada di depan dan di belakangnya masing-masing, tak ada yang boleh lengah. Aku misah ingat waktu itu di depanku ada Sylvi dan Dhimas kribo membututi rapat di belakangku.

Pukul 11 malam kami sudah sampai di Arcapada, sebuah tempat yang dipercaya terdapat dua patung (arca kembar) gaib berukuran besar yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Ahong yang bertindak sebagai pimpinan rombongan memerintahkan kami semua untuk beristirahat karena dirasa perjalanan terlalu cepat. Maka kami istirahat, berbaring, ngobrol setengah berbisik di tengah-tengah hawa dingin yang seakan-akan menembus tulang. Suara angin berdesir sangat keras, menimbulkan perasaan ngilu dan hening dalam pikiran. Semua perjalanan hidupku dari yang bisa kuingat sejak kecil seperti melintas di depan mataku, ada gambar bapak yang sedang tertawa melintas, kemudian hening, lalu muncul lagi keluarga kecil kami yang tengah berkumpul, kemudian hening lagi. Tak sadar ada setitik bening yang menetes di sudut mataku, mungkin alam bawah sadarku sangat merindukan kebersamaan itu.

Di sampingku, anak-anak sedang sibuk menghitung jutaan bintang yang memang sangat berkilau malam itu. Tak pernah kulihat yang seperti ini di belantara kota Surabaya. Sesekali terlihat bintang jatuh yang melesat sangat cantik, dan ternyata memang itulah yang mereka tunggu-tunggu. Semua diam dan membayangkan harapan yang ingin dicapainya. Ya, benar, di tengah hutan belantara ini kita seoalah dipaksa percaya dengan semua mitos yang sebelumnya kita anggap bodoh.

Pukul satu dini hari perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini suasana menjadi lebih mencekam karenasekelebat di kanan kiri kami banyak monumen-monumen peringatan. Monumen yang dibuat dan diletakkan oleh para sahabat yang kehilangan teman mendaki yang dicintainya, hilang atau ditemukan meninggal di tengah alam yang, selain indah, juga kejam ini. aku bergidik, tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain berdoa dan terus berjalan, mempercayakan sepenuhnya arah kaki pada teman di depanku.

Tak lama kemudian  kami sampai di cemoro tunggal yang merupakan batas vegetasi gunung Semeru. Setelah ini tak ada apa-apa lagi selain pasir dan batu dengan kemiringan tanah lebir dari 45 derajat. Dari sini rombongan kami mulai terpecah-pecah karena lalu lintas pendakian sangat ramai. Walaupun tak lagi berada di berada di pinggir jurang seperti di jalur Arcapada tadi, namun perjalanan setelah melewati cemoro tunggal ini juga tak kalah berbahaya. Banyak batu yang kelihatan kokoh, tapi sebenarnya rapuh dan runtuh ketika dijadikan pijakan. Kita harus sangat berhati-hati agar tidak mencelakakan pendaki yang berada di belakang kita. Dan cerita yang mengatakan bahwa pasir Semeru membuat orang mundur 1 langkah ketika mereka maju 3 langkah adalah bohong besar. Yang kurasakan saat itu adalah ketika aku maju 3 langkah seolah-olah aku sedang mundur 5 langkah. Sejenak aku tertidur ketika sedang beristirahat, yang di kemudian hari aku baru tahu kalau hal tersebut sangat berbahaya karena bisa saja kita akan terserang hipotemia.

Aku sadar bahwa tidurku cukup lama ketika aku tak melihat teman-temanku lagi di kanan kiri sedangkan puncak masih sangat jauh. Berjam-jam aku melangkah, hanya melangkah, aku tak berpikir apa-apa selain harus secepat mungkin mencapai puncak. Dari arah timur mulai muncul cahaya oranye yang sangat indah dan melenakan, aku tidak boleh berhenti! Ketika fajar mulai terbit aku mulai bisa melihat puncak Mahameru yang semakin dekat yang ternyata hanyalah ilusi. Satu jam lebih aku mendaki ternyata jarak yang kulihat tetap sama saja.
Foto ketika akan menyerah
Di tengah-tengah rasa lelah dan mulut yang terus menganga mencari tambahan oksigen, sekilas aku melihat ada beberapa orang yang bertayamum kemudian sholat subuh seadanya di kemiringan lereng puncak Mahameru. Ada perasaan takjub dan haru ketika melihat pemandangan tersebut, yaitu pemandangan orang-orang yang sedang ingin menaklukkan sang alam tapi bersamaan dengan itu juga mereka tetap menyembah Penciptanya. Indah sekali.

Hari sudah semakin terang, banyak pendaki yang sudah berbalik arah. Ada yang memang turun setelah mencapai puncak, ada pula yang turun karena menyerah karena pertimbangan tertentu, terlihat jelas bedanya dari sorot mata mereka. Tekadku mulai luntur, virus-virus yang bernama “berpikirlah realistis” mulai meracuni otakku, ditambah lagi perut yang juga meronta-ronta karena semalam hanya diisi beberapa sendok mie instan. Tak ada bekal, tak ada teman.

Baru saja kakiku melangkah turun karena bangunan tekad yang sudah roboh, ada seorang pendaki, yang tengah dalam perjalanan turun setelah mencapai puncak, bertanya “Gimana mas puncaknya? Keren kan?”

Kujawab saja dengan polos waktu itu “Saya belum sampai puncak mas, ini mau turun. Sudah siang.”

Dengan wajah terkejut pendaki pria yang mungkin sekitar tiga tahun usianya di atasku tersebut mendekat dan berkata “Sudah sampai sini kok mau turun. Ayo saya antar naik.”

Tanpa menunggu jawaban dariku di langsung menarik tanganku dengan paksa untuk kembali mendaki. Bangunan tekadku seketika mulai utuh kembali. Aku mendaki dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Menyala lagi mimpiku untuk mencium sang merah putih yang berkibar gagah di samping menumen peringatan Soe Hok Gie. Namun tetap saja stamina tak bisa berbohong.  Setelah beberapa lama menggandeng dan menyeret tanganku, pendaki yang menolongku tadi terus mendaki semakin cepat. Lama kelamaan aku tertinggal jauh sampai dia sudah tak terlihat lagi. Tapi tak mengapa, dia sudah sangat berjasa. Aku berpikir mungkin seperti itulah ciri-ciri calon penghuni surga, yaitu gemar membangkitkan harapan pada orang-orang yang tengah berputus asa.

Akhirnya sekitar pukul tujuh pagi aku berhasil mencapai puncak Mahameru, tertinggi di pulau Jawa, puncak tertinggi para dewa. Terlihat di bawah sana ada cucuran keringat, resiko kecelakaan, dan solidaritas pendaki yang mengantarkanku sampai disini. Ada rasa syukur yang membucah tak terkira, bukan hanya berhasil sampai ke puncak Mahameru, melainkan karena Tuhan mau bermurah hati menyelamatkan hambaNya yang lemah ini dari ganasnya alam bebas dan rasa penyesalan karena putus asa. Perjalanan ini bukan sekedar pendakian fisik, melainkan spiritual. Segala macam kesombongan tiba-tiba lenyap justru ketika kaki ini telah semakin tinggi mendekati langit.

Segera kucari teman-temanku yang sudah terlebih dulu sampai untuk menikmati keindahan ini bersama-sama. Puncak Mahameru, kawah jonggring saloka, monumen SOE HOK GIE, dan bendera merah putih lusuh yang gagah berkibar, seumur hidup kalian tak akan pernah mungkin kulupakan.
Monumen Soe Hok Gie, meninggal di puncak Semeru setelah menghirup gas beracun
Bendera paling gagah yang pernah aku lihat
Bersama kawan-kawan dan letupan jonggring saloka
(Bersambung ke seri 5)

Note : Cerita sebelumnya ada di seri 1seri 2, dan seri 3.


Kamis, 16 Januari 2014

Punahnya Padang Bulan

Yo para kanca, dolanan neng njaba
Padang mbulan, padange kayak rina
Rembulane seng ngawe-awe
Ngelikake ojo turu sore-sore

Lirik lagu tersebut sering aku dengar dari kakekku yang lahir di masa pra-kemerdekaan. Masih jelas dalam ingatannya adalah ketika Jepang datang ke tanah air untuk menjajah waktu itu kakek baru saja disunat, sehingga masih sempat merasakan hiruk pikuk perang kemerdekaan dibalik kepolosan masa kecilnya. Beruntung sekali sewaktu kecil aku dekat sekali dengan kakek, yang waktu itu masih belum terserang stroke.

Aku sering mendengarnya bercerita bagaimana sewaktu remaja, kakek dan teman-teman sebayanya tidak pernah tidur di rumah, melainkan di langgar-langgar, setelah lelah mengaji dan berlatih pencak silat. Para orang tua, karena tidak ada hiburan lain, lebih sibuk menceritakan dongeng-dongeng lokal seperti ande ande lumut, blaru klinting, kancil nyolong timun, dan dongeng lain yang penuh pesan moral kepada anak-anak yang masih kecil. Dan ketika bulan purnama tiba, tanpa diperintah seluruh anak-anak keluar untuk bermain. Ada yang bermain bentengan, petak umpet, egrang, dan yang bisa dibilang ekstrim adalah sepak bola api. Tak mau kalah, para orang tua juga ramai-ramai menggelar tikar sambil menikmati wedang, mereka menyebutnya sebagai jagong padang bulan.

Keceriaan padang bulan.
Mendengar cerita-cerita tersebut aku hanya bisa manggut-manggut sambil sedikit-sedikit membayangkan betapa bahagia masa kanak-kanak yang pernah dialami kakekku. Dan tentu saja ada perasaan iri ketika aku membandingkan dengan ‘kehidupan malam’ di masa kanak-kanakku. Aku tidak pernah tidur di langgar kecuali pada hari-hari tertentu di bulan ramadhan, dongeng-dongeng dan mitos lokal aku juga tak banyak tahu. Apalagi saat bulan purnama, tak ada anak-anak bermain di luar, tak ada juga orang tua yang merayakan jagong padang bulan. Ada keceriaan yang semakin memudar dari generasi ke generasi. Entah apakah itu merupakan efek samping dari kemajuan teknologi. Di malam hari, anak-anak sebayaku dipaksa berdiam diri di kamar dengan seabrek Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah yang lebih mirip penjara yang mematikan potensi dan kreatifitas. Sedangkan para orang tua juga lebih sibuk dengan sinetron yang dipancarkan oleh alat pendongeng baru, bernama televisi. Untung nilai-nilai spiritual waktu itu masih dianggap sakral, sehingga langgar-langgar masih tetap ramai oleh anak kecil walaupun hanya sebatas sampai selesai waktu isya.

Namun, rasa iri tersebut kini serta merta berubah menjadi rasa syukur yang tak terkira saat aku tumbuh dewasa dan melihat betapa keringnya kehidupan anak kecil di masa sekarang. Jangan bicara tentang padang bulan, tentang bentengan, atau tentang dongeng ande-ande lumut, karena hampir pasti mereka tidak tahu. Entah dimensi keceriaan macam apa yang dinikmati oleh anak-anak masa kini. Kalau dulu, mungkin, keceriaan di masa kecilku terenggut oleh televisi dan game sederhana, lalu bagaimana dengan nasib keceriaan anak-anak masa sekarang di tengah gempuran teknologi yang semakin menggila. Internet, game online dan gadget canggih telah mengalihkan pola permainan kolektif anak-anak menjadi lebih individualistik dan eksklusif. Belum lagi dengan tugas-tugas sekolah yang semakin menumpuk dan les-les mata pelajaran yang terpaksa harus diikuti.

Ironis sekali, kemajuan teknologi yang katanya untuk memudahkan kehidupan manusia harus ditebus dengan biaya yang sangat mahal (dan sesungguhnya tak ternilai), yaitu waktu bermain dan bertumbuh anak-anak. Di jaman sekarang, tak ada lagi waktu bagi anak-anak untuk bermain bentengan atau petak umpet yang bisa melatih teamwork dan insting motorik mereka, tak ada waktu untuk mendengarkan dongeng ande-ande lumut yang menyiratkan pesan bahwa letak kecantikan/kebagusan bukanlah di fisik melainkan di dalam hati. Yang ada tinggal kesibukan untuk mempersiapkan masa depan, yang oleh para orang tua dan guru-guru, dibuat seolah-olah menyeramkan.

Tak berani aku membayangkan bagaimana jadinya kelak jika anak-anak terus menerus tumbuh dalam lingkungan yang kering. Tidak ada keceriaan yang tulus, semakin berkurangnya waktu-waktu berkualitas dengan keluarga karena direnggut oleh acara-acara televisi yang melenakan, juga memudarnya nilai spiritual serta kedekatan kolektif dengan teman sebaya. Secepatnya, mereka harus diselamatkan.