Rabu, 29 Januari 2014

Religion kok Violence?!

Beberapa tahun belakangan ini sering muncul istilah yang bisa dibilang baru dan asing, yaitu religion violence. Kita sudah sering mendengar kata religion, karena walau masih banyak korupsi negeri ini terkenal religius. Masjid tersebar dimana, di pojok-pojok setiap instansi pemerintah pasti ada. Gereja juga tidak sulit ditemui, begitu juga tempat-tempat ibadah lainnya. Sedangkan violence, kita juga sudah terbiasa dengan istilah tersebut, bahkan sudah sangat akrab. Dari jaman Belanda rakyat kita sudah sering disiksa, pun begitu Londo ireng yang berkuasa di kemudian hari juga masih hobi menyiksa dan membunuhi anak bangsanya sendiri.

Tapi kalo religion violence? Rasanya kok aneh. Kenapa religion yang identik dengan kesucian, kemuliaan akhlak, dan kesalehan sosial, bisa disandingkan dengan violence yang merupakan perwujudan dari hilangnya rasa kemanusiaan, kemunduran peradaban, dan keserakahan yang memuncak. Kontradiktif, ironis.

Kalo dulu tindakan violence sering dilakukan oleh penjajah asing, pemerintah yang represif, dan pemilik modal yang serakah, kini kelompok yang mengaku sebagai pencinta religion ikut ambil bagian. Sudah tak terhitung kasus nyata yang terjadi dalam dasawarsa belakangan ini. mulai dari bom bali, bom natal, bom kuningan, pengrusakan tempat ibadah, pembantaian kelompok minoritas, dan, cukup! Tak sanggup lagi aku menyebutkan. Terlalu menyakitkan.

Dan ironisnya, kelompok pelaku kekerasan, seperti jaringan teroris, Front Pembela Islam, kelompok jihad, dan kelompok lain yang begitu bangga ketika beraksi melakukan berbagai kerusakan. Di tengah peran negara yang lemah dan tidak bisa diharapkan, mereka semakin menjadi-jadi. Religion mereka jadikan motivasi untuk memukul, menendang, dan meledakkan. Pelaku violence pun tinggal ongkang-ongkang kaki, tugasnya sudah tergantikan oleh para pemburu tiket ke surga yang dungu itu.
Entah siapa yang salah? Karena setahuku religion (apapun itu) sejatinya mengajarkan kebaikan. Semua pendiri religion merupakan orang saleh yang justru harus menghadapi siksaan dari para pelaku violence, yang seringkali melampaui batas. Musa (Moshes) berjuang menyelamatkan kaum israel dari kekejaman Fir’aun Mesir, Isa (Yesus) menentang rabi-rabi Yahudi yang menjadi kaki-tangan penjajah Romawi, Nabi Muhammad SAW rela dimusuhi oleh kelompok jahiliah untuk menegakkan keadilan sosial, begitu juga dengan Budha Gautama, Kong Hu chu, dan pemimpin-pemimpin agama lainnya.
Tapi kini, pelaku violence adalah yang mengaku pecinta religion itu sendiri. Dengan berbagai dalih tentunya, mulai dari beda keyakinan, beda aliran, beda mahzab, dan lain sebagainya yang seharusnya bisa diseleseikan dengan bijak. Bukankah komitmen kepada keesaan Tuhan seharusnya melahirkan komitmen untuk menjaga kemanusiaan? Bukankah menyakiti satu manusia (terlebih manusia yang lemah) sama saja dengan menyakiti manusia seluruhnya?

Seandainya yang mereka lakukan adalah untuk membela Tuhan, maka seharusnya mereka tahu bahwa Tuhan itu maha besar, tak perlu dibela. Justru Tuhan lah yang menyelamatkan umatNya yang teraniya. Terbelahnya laut merah, diangkatnya Isa ke langit-Nya, serta campur tangan pasukan malaikat dalam perang badar hanyalah sedikit contoh dari kebesaran Tuhan, yang ironisnya, justru dikerdilkan oleh para pecinta religion tersebut.
Apakah pemimpin-pemimpin mereka tak pernah mengajarkan pedoman dasar tersebut? Atau jangan-jangan semua violence itu dilakukan memang bukan untuk Tuhan. Lalu untuk apa? Uang? Popularitas? Atau sekedar nasi bungkus? Entah lah. Aku bertanya pada mbah kakung, beliau malah balik bertanya keheranan “Opo le?! Religion kok violence?”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar