Kebohongan yang terus
diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Sampah yang terus menerus disajikan
(seolah-olah)akan menjadi makanan yang bergizi. Mungkin seperti itulah gambaran
acara televisi di negeri ini. Acara lawak yang lebih banyak mengandalkan bully
fisik dan verbal daripada kecerdasan membalik logika, acara musik yang penuh
kepalsuan dengan (sok) menampilkan live
performance padahal yang diputar adalah musik rekaman, sinetron basi yang ceritanya
hanya berkutat pada perselingkuhan dan rebutan harta warisan, serta yang lagi
ngetrend sekarang adalah YKS dan acara
lain sejenisnya yang tidak menyuguhkan hal apapun kepada penontonnya selain
sampah.
Masyarakat Indonesia yang memang
sebagian besar masih setia pada televisi sebagai media hiburan yang murah dan simple hanya dijadikan komoditas untuk menarik
pundi-pundi uang melalui iklan. Prinsipnya, semakin banyak acara ditonton, maka
produsen-produsen akan semakin tertarik untuk menempatkan iklannya di sela-sela
acara tersebut. Jadi, bisa dikatakan ini semua sebenarnya tentang bisnis,
masyarakat yang menonton tidak mendapat apapun selain, ya itu tadi, sampah. Dan sayangnya, para pemilik televisi tidak
memberikan balas jasa apapun pada para penonton setianya yang telah berasa
menaikkan pendapatan iklan mereka, misalnya melalui siaran acara televisi yang
mendidik, berita-berita yang berimbang dan akurat, maupun acara-acara musik/olahraga
yang bermutu.
Belum lagi menjelang pemilu tahun
2014 ini, semua stasiun televisi mulai berlomba untuk mengarahkan penontonnya
kepada suatu pilihan partai atau tokoh tertentu. Sudah bukan rahasia lagi kalo pemilik
stasiun-stasiun televisi besar di negeri ini juga ikut bertarung di pemilu
2014. Sebut saja Surya Paloh (MetroTV),
Aburizal Bakrie (Tvone), Hary Tanoe (MNC Media), juga tokoh-tokoh lain
seperti Chairul Tanjung dan Dahlan Iskan. Berlipat gandalah musibah masyarakat
karena menonton televisi. Selain dijadikan komoditas ekonomi pengeruk iklan,
juga dijadikan sebagai komoditas politik untuk meraih kekuasaan.
Untuk itu, sudah saatnya kita
semua sadar bahwa tidak ada manfaat yang didapat dari menonton televisi. Justru
mudharatnya sangat besar jika kita
terus mempercayai televisi sebagai media hiburan dan pusat informasi. Mudharat-mudharat yang akan menimpa kita
jika kita terus-terusan menonton televisi antara lain :
- Menimbulkan rasa malas. Menonton televisi berjam-jam merupakan kegiatan yang kontra produktif dan tidak memiliki nilai tambah. Kita akan menjadi malas melakukan pekerjaan karena tidak mau beranjak dari tempat duduk kita yang nyaman di televisi. Pekerjaan rumah terbengkalai, cucian menumpuk, ibadah pun juga ditunda-tunda.
- Merampas kebersamaan keluarga. Waktu efektif berkumpul bersama keluarga (seusai magrib sampai menjelang tidur) biasanya diisi dengan menonton televisi bersama. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah televisi sedang merampok waktu kebersamaan kita bersama keluarga. Karena dengan begitu komunikasi antar anggota keluarga tidak akan terjalin mesra dan intens, anak-anak akan merasa risih untuk curhat, dan orang tua pun juga tidak akan bisa memberikan nasehat-nasehat dengan leluasa di tengah-tengah acara sinetron basi yang selalu menampilkan kelicikan dan keculasan di setiap alur ceritanya.
- Anak-anak kehilangan waktu bermain. Butuh kedewasaan untuk memilih mana yang terbaik dan bermanfaat untuk dirinya, dan tentu saja anak-anak tidak tahu hal tersebut. Bagi mereka yang penting adalah menarik, lagi ngetrend, dan banyak hingar bingarnya. Anak-anak jelas tidak sadar bahwa semakin banyak waktu yang dia gunakan untuk menonton televisi, maka semakin banyak waktu masa kecilnya yang terbuang sia-sia. Jadi, merupakan kewajiban kita sebagai orang dewasa untuk mengarahkan anak-anak agar lebih banyak menghabiskan masa kecilnya untuk bermain di luar bersama teman-teman sebayanya, membaca buku ensiklopedia, mengaji bersama, atau melakukan kegiatan outbond yang bisa melatih kecerdasan motoriknya.
- Terprovokasi oleh informasi yang tidak berimbang. Secara awam bisa dilihat bahwa berita-berita yang muncul di televisi semakin lama semakin tidak memihak pada kepentingan publik, melainkan mengarah pada kepentingan tertentu dari pemilik stasiun televisi. Maka antar stasiun televisi pun saling memojokkan serta saling membanggakan partai dan tokoh tertentu, dengan sumber yang diragukan kevalidannya. Sajian ini bisa berakibat buruk bagi masyarakat Indonesia yang kebanyakan tidak sadar dan masih mempercayai televisi sebagai sumber informasi utama.
Empat mudharat tersebut sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alasan
bagi kita semua untuk mengurangi dan (kemudian) berhenti menonton televisi. Tidak
ada take and give yang seimbang antara pemilik stasiun televisi
dengan penonton setianya. Yang ada hanyalah eksploitasi antara satu pihak ke
pihak lainnya demi kepentingan bisnis dan kekuasaan.
Daripada menonton televisi,
secara pribadi saya lebih menyarankan untuk menonton film, drama musikal, atau
acara talkshow luar negeri yang
mendidik sebagai media hiburan bersama keluarga. Sedangkan untuk sumber
informasi, saya pikir itu sudah bukan lagi monopoli televisi. Di media sosial
sudah bertebaran informasi yang bisa kita pilah-pilah mana yang berbobot mana
yang tidak. Bahkan di twitter sudah
banyak terdapat akun-akun tokoh Indonesia yang dikelola secara pribadi sehingga
kita bisa mendapat informasi langsung dari sumbernya.
Dan seandainya mau kompak, sebenarnya penonton
lah yang berkuasa atas pemilik stasiun televisi. Karena tanpa penonton, tidak
ada pemasukan dari iklan. Sayangnya masih banyak penonton-penonton terbodohi,
yang semakin diberi sampah malah semakin
bersorak kegirangan. Maka tak aneh jika rating acara YKS semakin tinggi,
walaupun setiap hari (selama 4 jam) hanya menyajikan lawakan-lawakan basi,
makian kasar, dan goyangan bodoh yang anehnya semakin digemari. Apa mereka sudah melihat sampah-sampah tersebut sebagai makanan yang bergizi? Entahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar