14 abad yang lalu Islam telah
membawa perubahan yang sangat besar bagi peradaban di jazirah Arab yang
sebelumnya sangat jahil (bodoh) dan
terkotak-kotakkan oleh fanatisme kesukuan. Kecerdasan, keteguhan, dan kesabaran
Nabi Muhammad SAW yang selalu dibimbing oleh wahyu pada akhirnya berhasil
menyatukan seluruh suku-suku di jazirah arab ke dalam sebuah persaudaraan baru
yang lintas suku, keturunan, maupun kelas ekonomi. Melalui Islam, Nabi SAW
beserta generasi sahabat mampu membangun sebuah imperium baru yang tidak pernah
diimpikan sebelumnya oleh penduduk padang pasir gersang, yang mana selama
ratusan tahun tidak diperhitungkan keberadaannya oleh dua kekuatan adidaya kala
itu, Kekaisaran Persia dan Byzantium.
Waktu itu Islam datang dengan
semangat kemajuan yang jauh melebihi jamannya. Islam telah mengajarkan akhlak
yang bisa dibilang revolusioner. Meruntuhkan budaya-budaya jahiliah yang saat itu telah dianggap umum dan wajar. Antara lain
Islam mengajarkan untuk memuliakan wanita, memberi jatah warisan kepada mereka,
dan melipatkan kemuliaan ibu tiga kali di atas bapak. Padahal sebelumnya
masyarakat pra-Islam sangat merendahkan kaum wanita, bahkan memiliki anak
wanita dianggap sebagai aib sehingga merupakan hal yang lumrah ketika seorang
bapak tega mengubur putrinya hidup-hidup untuk menutupi rasa malu.
Selain itu, Nabi SAW juga
meletakkan pondasi dasar bagi kemanusiaan yang sangat modern, yaitu menyama
ratakan semua manusia tanpa terkecuali atas dasar tauhid. Hanya Allah lah yang
pantas disembah, dan kadar ketakwaan kepada-Nya lah yang menentukan kemuliaan
seorang manusia. Tidak peduli kaya-miskin, pria-wanita, maupun tuan-budak. Sebuah
paham persamaan yang mengantarkan Islam -yang lahir dan tumbuh di tempat yang
terasing dari peradaban dunia- nantinya menjadi sebuah pusat peradaban besar
dengan kemajuan di segala bidang yang meliputi politik, ekonomi, militer, dan
ilmu pengetahuan-teknologi.
Namun, setelah 14 abad berlalu
keadaan seperti berbalik 180 derajat. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas
penduduknya muslim seolah-olah termajinalkan oleh kemiskinan dan kebodohan,
serta tidak memiliki posisi tawar yang kuat di percaturan politik dunia. Kita
ambil data kasar saja, dari 100 universitas terbaik di dunia, tak satupun yang
berada di negara yang penduduk mayoritasnya muslim. Sebagian besar masih
berkutat dengan masalah kemiskinan dan konflik perebutan kekuasaan di dalam
negeri. Sedangkan negara muslim yang kaya karena cadangan minyak juga
seolah-olah melempem di tengah
cengkeraman negara-negara barat yang menjadi tuannya.
Hal inilah yang menyebabkan
perasaan inferior di dunia Islam terhadap negara-negara barat (menurut
pengkategorian peradaban ala Samuel Huttington) yang bisa dikatakan sebagai
pemimpin lokomotif peradaban saat ini. Rasa inferioritas ini kemudian
diekspresikan melalui dua tindakan yang sama-sama destruktif. Pertama, adalah
silau yang berujung pada sikap membebek
kepada semua kemajuan yang telah dicapai oleh barat tanpa filter. Semua ditiru, mulai dari model pemerintahan, sistem
ekonomi, sampai dengan kebudayaannya. Tak tersisa lagi spirit Islam yang
mengedepankan ukhuwah berdasarkan
persamaan, pemerataan pendapatan yang
melarang penumpukan modal, dan komitmen keimanan yang diwujudkan melalui
kesalehan sosial.
Ekspresi kedua adalah sikap anti
barat yang berlebihan, yang pada akhirnya bermuara pada terorisme dan gerakan
Islam ekstrimis. Al-Qaeda pimpinan
Osama bin Laden yang sempat menggegerkan itu lahir dari sikap inferior model
ini. Selain itu, ada juga gerakan ekstrimis yang melarang semua hal berbau
barat di wilayah yang dikuasainya, termasuk juga pendidikan dan kesehatan. Di
Pakistan terdapat ratusan bayi lumpuh karena taliban yang berkuasa disana
melarang adanya vaksinasi polio. Dari sini wajah dunia Islam terlihat sangat
kaku, terbelakang, dan muram. Ditambah dengan propaganda dari media-media
pesanan barat, Islam menjadi semakin terpinggirkan.
Dari situlah dibutuhkan sikap
alternatif bagi dunia Islam untuk menghadapi hegemoni dunia barat. Tidak membebek karena Islam memiliki
nilai-nilai luhur berdasarkan Tauhid yang harus diamalkan, tidak juga dengan
sikap anti yang berlebihan karena Islam merupakan agama paripurna yang pondasi-pondasi
keyakinannya tidak akan runtuh dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi. Melainkan yang harus menjadi agenda utama umat islam adalah
menengok kembali nilai-nilai dasar islam yang telah diwariskan oleh Nabi SAW
sebagai modal perjuangan. Pendidikan rasional yang berdasarkan tauhid, persamaan
dan persaudaraan antar umat yang tidak membeda-bedakan suku atau kelas sosial,
serta etos kerja yang pamrihnya hanya pada ridha Allah harus benar-benar
dimantapkan kembali sebagai bahan bakar perjuangan umat Islam. Tanpa perlu
mengungkit-ungkit perbedaan mahzab yang sifatnya hanya permukaan belaka.
Gerakan-gerakan islam yang hanya
menjual slogan-slogan utopia serta romantisme masa lalu harus segera
ditinggalkan. Umat islam harus mulai secara realistis merumuskan berbagai
permasalahan yang mengakibatkan mandeknya peradaban lalu dengan bijak mencari solusi
bersama dengan bekal ilmu yang dimiliki (sekali lagi, masalah umat islam tidak
akan selesai hanya dengan slogan-slogan dan rangkaian takbir kosong).
Kemiskinan, kebodohan, dan ketidak mandirian dalam hal ekonomi dari
negara-negara barat merupakan masalah serius yang harus dihadapi mayoritas
negeri muslim saat ini.
Ilmu pengetahuan dan teknologi
dari barat juga harus diserap habis-habisan secara rasional, bukan hanya dengan
terus-menerus mengklaim bahwa penemuan-penemuan yang telah dicapai oleh ilmuwan
barat ternyata sudah ada di dalam Al-Qur’an. Sikap ‘main klaim’ seperti itu
memang membanggakan pada awalnya, tapi selanjutnya akan melenakan dan mematikan
semangat untuk melakukan penelitian-penelitian. Semua digantungkan pada barat,
nanti kita tinggal mengklaim penemuan mereka telah terdapat dalam Al-Qur’an.
Bukan, bukan seperti itu seharusnya ilmu pengetahuan dalam Islam diterapkan.
Melainkan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai motivasi untuk menguak
misteri-misteri yang dihidangkan Allah di alam raya ini.
Dan tentu saja pola perjuangan
Islam tidak harus disamakan dengan pola perjuangan zaman dulu yang lebih banyak
berbicara tentang Islam sebagai lembaga formal dengan berbagai macam penaklukan
militernya. Pola tersebut sudah bisa dianggap kuno dan kehilangan
kontekstualnya. Melainkan yang harus dilakukan adalah menghadirkan Islam
sebagai kekuatan baru dunia yang memiliki nilai tawar tinggi di bidang
pendidikan, ekonomi, dan percaturan geopolitik. Dunia barat juga tidak harus
dianggap sebagai musuh peradaban (seperti yang diungkapkan Huttington),
melainkan sebagai sparring partner
untuk berlomba-lomba dalam hal kemajuan peradaban, meskipun harus diakui bahwa
gesekan-gesekan kecil antara dua peradaban besar memang tidak bisa dihindari.
Islam bisa lahir dan berkembang
di daratan padang pasir yang gersang dan tanpa peradaban. Tujuh abad kemudian
Islam juga mampu tumbuh subur di Nusantara yang saat itu merupakan pusat
kebudayaan Hindu-Budha di dunia (Prambanan dan Borobudur merupakan “ka’bah”nya umat Hindu-Budha kala itu).
Dan empat belas abad berlalu, sudah saatnya umat Islam kembali mewarnai
kemajuan peradaban dunia. Meninggalkan belenggu kemiskinan dan kebodohan yang
selama beberapa abad terakhir ini membuatnya terasing dan diasingkan. Namun
sekali lagi, harus diingat pula bahwa Allah tidak akan mengubah nasib kita
kecuali kita mengubahnya sendiri. Inilah tugas kita semua. Bismillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar