Senin, 27 Januari 2014

Islam Yang Terasingkan

14 abad yang lalu Islam telah membawa perubahan yang sangat besar bagi peradaban di jazirah Arab yang sebelumnya sangat jahil (bodoh) dan terkotak-kotakkan oleh fanatisme kesukuan. Kecerdasan, keteguhan, dan kesabaran Nabi Muhammad SAW yang selalu dibimbing oleh wahyu pada akhirnya berhasil menyatukan seluruh suku-suku di jazirah arab ke dalam sebuah persaudaraan baru yang lintas suku, keturunan, maupun kelas ekonomi. Melalui Islam, Nabi SAW beserta generasi sahabat mampu membangun sebuah imperium baru yang tidak pernah diimpikan sebelumnya oleh penduduk padang pasir gersang, yang mana selama ratusan tahun tidak diperhitungkan keberadaannya oleh dua kekuatan adidaya kala itu, Kekaisaran Persia dan Byzantium.

Waktu itu Islam datang dengan semangat kemajuan yang jauh melebihi jamannya. Islam telah mengajarkan akhlak yang bisa dibilang revolusioner. Meruntuhkan budaya-budaya jahiliah yang saat itu telah dianggap umum dan wajar. Antara lain Islam mengajarkan untuk memuliakan wanita, memberi jatah warisan kepada mereka, dan melipatkan kemuliaan ibu tiga kali di atas bapak. Padahal sebelumnya masyarakat pra-Islam sangat merendahkan kaum wanita, bahkan memiliki anak wanita dianggap sebagai aib sehingga merupakan hal yang lumrah ketika seorang bapak tega mengubur putrinya hidup-hidup untuk menutupi rasa malu.

Selain itu, Nabi SAW juga meletakkan pondasi dasar bagi kemanusiaan yang sangat modern, yaitu menyama ratakan semua manusia tanpa terkecuali atas dasar tauhid. Hanya Allah lah yang pantas disembah, dan kadar ketakwaan kepada-Nya lah yang menentukan kemuliaan seorang manusia. Tidak peduli kaya-miskin, pria-wanita, maupun tuan-budak. Sebuah paham persamaan yang mengantarkan Islam -yang lahir dan tumbuh di tempat yang terasing dari peradaban dunia- nantinya menjadi sebuah pusat peradaban besar dengan kemajuan di segala bidang yang meliputi politik, ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan-teknologi.

Namun, setelah 14 abad berlalu keadaan seperti berbalik 180 derajat. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas penduduknya muslim seolah-olah termajinalkan oleh kemiskinan dan kebodohan, serta tidak memiliki posisi tawar yang kuat di percaturan politik dunia. Kita ambil data kasar saja, dari 100 universitas terbaik di dunia, tak satupun yang berada di negara yang penduduk mayoritasnya muslim. Sebagian besar masih berkutat dengan masalah kemiskinan dan konflik perebutan kekuasaan di dalam negeri. Sedangkan negara muslim yang kaya karena cadangan minyak juga seolah-olah melempem di tengah cengkeraman negara-negara barat yang menjadi tuannya.

Hal inilah yang menyebabkan perasaan inferior di dunia Islam terhadap negara-negara barat (menurut pengkategorian peradaban ala Samuel Huttington) yang bisa dikatakan sebagai pemimpin lokomotif peradaban saat ini. Rasa inferioritas ini kemudian diekspresikan melalui dua tindakan yang sama-sama destruktif. Pertama, adalah silau yang berujung pada sikap membebek kepada semua kemajuan yang telah dicapai oleh barat tanpa filter. Semua ditiru, mulai dari model pemerintahan, sistem ekonomi, sampai dengan kebudayaannya. Tak tersisa lagi spirit Islam yang mengedepankan ukhuwah berdasarkan persamaan, pemerataan pendapatan yang melarang penumpukan modal, dan komitmen keimanan yang diwujudkan melalui kesalehan sosial.

Ekspresi kedua adalah sikap anti barat yang berlebihan, yang pada akhirnya bermuara pada terorisme dan gerakan Islam ekstrimis. Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang sempat menggegerkan itu lahir dari sikap inferior model ini. Selain itu, ada juga gerakan ekstrimis yang melarang semua hal berbau barat di wilayah yang dikuasainya, termasuk juga pendidikan dan kesehatan. Di Pakistan terdapat ratusan bayi lumpuh karena taliban yang berkuasa disana melarang adanya vaksinasi polio. Dari sini wajah dunia Islam terlihat sangat kaku, terbelakang, dan muram. Ditambah dengan propaganda dari media-media pesanan barat, Islam menjadi semakin terpinggirkan.

Dari situlah dibutuhkan sikap alternatif bagi dunia Islam untuk menghadapi hegemoni dunia barat. Tidak membebek karena Islam memiliki nilai-nilai luhur berdasarkan Tauhid yang harus diamalkan, tidak juga dengan sikap anti yang berlebihan karena Islam merupakan agama paripurna yang pondasi-pondasi keyakinannya tidak akan runtuh dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Melainkan yang harus menjadi agenda utama umat islam adalah menengok kembali nilai-nilai dasar islam yang telah diwariskan oleh Nabi SAW sebagai modal perjuangan. Pendidikan rasional yang berdasarkan tauhid, persamaan dan persaudaraan antar umat yang tidak membeda-bedakan suku atau kelas sosial, serta etos kerja yang pamrihnya hanya pada ridha Allah harus benar-benar dimantapkan kembali sebagai bahan bakar perjuangan umat Islam. Tanpa perlu mengungkit-ungkit perbedaan mahzab yang sifatnya hanya permukaan belaka.

Gerakan-gerakan islam yang hanya menjual slogan-slogan utopia serta romantisme masa lalu harus segera ditinggalkan. Umat islam harus mulai secara realistis merumuskan berbagai permasalahan yang mengakibatkan mandeknya peradaban lalu dengan bijak mencari solusi bersama dengan bekal ilmu yang dimiliki (sekali lagi, masalah umat islam tidak akan selesai hanya dengan slogan-slogan dan rangkaian takbir kosong). Kemiskinan, kebodohan, dan ketidak mandirian dalam hal ekonomi dari negara-negara barat merupakan masalah serius yang harus dihadapi mayoritas negeri muslim saat ini.

Ilmu pengetahuan dan teknologi dari barat juga harus diserap habis-habisan secara rasional, bukan hanya dengan terus-menerus mengklaim bahwa penemuan-penemuan yang telah dicapai oleh ilmuwan barat ternyata sudah ada di dalam Al-Qur’an. Sikap ‘main klaim’ seperti itu memang membanggakan pada awalnya, tapi selanjutnya akan melenakan dan mematikan semangat untuk melakukan penelitian-penelitian. Semua digantungkan pada barat, nanti kita tinggal mengklaim penemuan mereka telah terdapat dalam Al-Qur’an. Bukan, bukan seperti itu seharusnya ilmu pengetahuan dalam Islam diterapkan. Melainkan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai motivasi untuk menguak misteri-misteri yang dihidangkan Allah di alam raya ini.

Dan tentu saja pola perjuangan Islam tidak harus disamakan dengan pola perjuangan zaman dulu yang lebih banyak berbicara tentang Islam sebagai lembaga formal dengan berbagai macam penaklukan militernya. Pola tersebut sudah bisa dianggap kuno dan kehilangan kontekstualnya. Melainkan yang harus dilakukan adalah menghadirkan Islam sebagai kekuatan baru dunia yang memiliki nilai tawar tinggi di bidang pendidikan, ekonomi, dan percaturan geopolitik. Dunia barat juga tidak harus dianggap sebagai musuh peradaban (seperti yang diungkapkan Huttington), melainkan sebagai sparring partner untuk berlomba-lomba dalam hal kemajuan peradaban, meskipun harus diakui bahwa gesekan-gesekan kecil antara dua peradaban besar memang tidak bisa dihindari.


Islam bisa lahir dan berkembang di daratan padang pasir yang gersang dan tanpa peradaban. Tujuh abad kemudian Islam juga mampu tumbuh subur di Nusantara yang saat itu merupakan pusat kebudayaan Hindu-Budha di dunia (Prambanan dan Borobudur merupakan “ka’bah”nya umat Hindu-Budha kala itu). Dan empat belas abad berlalu, sudah saatnya umat Islam kembali mewarnai kemajuan peradaban dunia. Meninggalkan belenggu kemiskinan dan kebodohan yang selama beberapa abad terakhir ini membuatnya terasing dan diasingkan. Namun sekali lagi, harus diingat pula bahwa Allah tidak akan mengubah nasib kita kecuali kita mengubahnya sendiri. Inilah tugas kita semua. Bismillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar