Dialah Rahwana, raja Alengkadireja
yang lebih dikenal sebagai penguasa kegelapan. Semua hal buruk selalu
dinisbatkan kepadanya. Bahkan semenjak lahir pun sudah dianggap sebagai anak
haram, hasil hubungan yang tidak dikehendaki antara Resi Wisrawa dan Dewi
Sukesi. Wajahnya tak terhitung jumlahnya, berserakan tak beraturan. Sama sekali
tak nampak indah di mata orang kebanyakan. Kelakuannya pun bisa dibilang kurang
ajar, yaitu menculik istri orang selama bertahun-tahun. Sungguh tak elok dan
tidak sesuai dengan tata laku kesopanan secara umum.
Namun, apapun kata orang tentang
dirinya dan kedua orangtuanya, Rahwana tidak pernah ambil pusing. Dia mengenal
betul siapa ayah dan ibunya dan meyakini bahwa mereka telah dijebak oleh para
dewa yang sering berlaku licik, sehingga tumbuhlah benih yang mewujud dirinya. Toh,
walaupun dikenal sebagai penguasa kegelapan, Rahwana mampu membawa negeri
peninggalan kakeknya, Prabu Sumali, menjadi negeri yang makmur, aman, dan
sejahtera. Bahkan semenjak usia 15 tahun dia telah menguasai ilmu Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang
diwarisi dari sang ayah. Sebuah ilmu langka dan rahasia, konon hanya para dewa
lah yang boleh tahu tentang ilmu tersebut.
Rahwana menganggap kalau jalan
hidup dan perannya di dunia yang semu ini sudah diatur dan ditetapkan oleh Sang
Hyang Widhi, sehingga apapun yang dikatakan orang dia tak peduli. Tak jadi soal
ketika dia disebut sebaga Dasamuka penguasa kegelapan dan dimusuhi karena telah
mencintai wanita yang telah bersuami, yaitu Dewi Sinta. Nampaknya Rahwana telah
ikhlas menjalani takdirnya tersebut karena dia yakin bahwa kehidupan di dunia ini
harus seimbang, tak boleh hanya ada putih di dalamnya.
Kekurangajarannya menculik Dewi
Sinta pun juga bukan tanpa alasan, melainkan karena dorongan rasa cinta yang
begitu besar kepada titisan Dewi Sri ini. Terbukti setelah menculik Dewi Sinta
dari suaminya, Prabu Rama Wijaya, Rahwana tidak langsung menjamah atau
menyekapnya, melainkan menempatkan Dewi Sinta di taman Argasoka. Konon taman Argasoka
ini merupakan replika dari keindahan surga yang ada di kahyangan. Selama
sebelas tahun Shinta dimuliakan di taman ini, tanpa dijamah sedikitpun apalagi
disakiti oleh Rahwana. Setiap hari, selama bertahun-tahun Rahwana datang untuk
menyatakan cinta kepada Shinta secara sopan, setiap hari pula hatinya remuk
redam mendengar penolakan Shinta. Walaupun begitu tak sedikitpun sikap Rahwana
berubah, cintanya terlalu tulus kepada istri penguasa negeri Ayodya tersebut.
Dan walaupun tak henti-hentinya menolak tawaran Rahwana, diam-diam Shinta
mengagumi kegigihan hati Rahwana sekaligus mempertanyakan sang suami yang tak
kunjung menyelamatkannya.
Kegetiran hati Shinta mencapai
puncaknya tatkala dia hanya mampu menolak tawaran Rahwana melalui gelengan
pelan, tanpa kata dan tanpa suara. Bahkan air matanya sempat menitik tatkala
mendengar suara raungan yang menggelegar ke seantero Alengkadireja. Suara
kekecewaan dan ungkapan cinta tak berbalas dari seorang raksasa yang penuh
cinta.
Wahai
Sang penguasa
semesta
Adakah yang
salah dari hamba?
Akulah
Rahwana, Raja Alengkadireja
Negara
adidaya dengan keamanan yang selalu terjaga
Rakyat
Alengkadireja demikian aman, damai, dan sejahtera
Orang-orang
dari negara manca
Kini datang
dan bermukim di kerajaan Alengkadireja
Mengapa
Alengkadireja seperti belum kunjung sempurna?
Aku tidak
berniat mempersoalkan
Mengapa tela
Engkau lahirkan diriku sebagai raksasa
Dari benih
yang tertanam tidak dengan semestinya
Sosok
menakutkan yang dibenci penghuni semesta
Dan ditakuti
oleh para dewa di kahyangan
Aku Prabu
Rahwana hanya mau bertanya
Salahkah bila
aku memiliki keagungan Cinta?
Aku sudah
sangat rela dan menerima
Jika dianggap
anak jadah pembawa petaka
Yang tak
punya santun merusak kahyangan para dewa
Tapi
salahkah, bila aku mempertahankan Cinta?
Segala dunia
telah aku injak dan kurasa
Aji dan ilmu
rahasia telah terbenam dalam jiwa dan raga
Sastrajendra
Hayuningrat Pangruwating Diyu aku pun kuasa
Salahkah jika
aku bersikukuh memelihara Cinta??
Bila Engkau,
wahai Sang Penguasa Semesta…
Tidak
memperkenankan Cinta yang kusemai dan pelihara
Mengapa
Engkau tidak musnahkan saja keberadaannya
Bila Engkau
juga menghendaki segalanya harus sempurna
Mengapa hamba
hanya mendapatkan kegelapan semata?
Apakah karena
aku lahir tanpa perkenan semesta
Lantas aku
diharamkan untuk memiliki keagungan cinta?
Haaahh!!!!
Biarlah aku
mati dicabik-cabik panah Rama Wijaya
Atau ditembus
keris sakti Laksmana
Asalkan
segenap semesta bersaksi dengan saksama
Aku memiliki
Cinta Agung di dalam dada...
Hati wanita mana yang tak luluh
mendengar pengakuan jujur dari seorang lelaki yang begitu ksatria dalam
mengungkapkan cintanya, tak ada malu ataupun merasa rendah. Shinta berusaha menutup telinganya, tapi
percuma. Kata-kata Rahwana tersebut tidak meluncur ke telinganya, melainkan
langsung menghujam ke jantungnya. Barangkali kini Shinta telah terjebak di
wilayah yang sangat genting antara perasaan terdalamnya dan nilai-nilai moral
serta kesetiaan yang mengikat dirinya sebagai wanita bersuami.
Dan akhirnya, lakon Rahwana
sebagai penguasa kegelapan memang harus berakhir. Dengan bantuan dari pasukan
kera Anoman dan penghianatan Gunawan Wibisana yang merupakan adik kandung
Rahwana, Prabu Ramawijaya berhasil mengalahkan negeri Alengkadireja dalam
peperangan brubuh. Sang Dasamuka sendiri harus kembali kepada Sang Penciptanya
dengan diantar oleh panah Guhywawijaya, senjata
pamungkas milik Prabu Rama. Dengan dimikian kembali lah Shinta ke pangkuan Rama
setelah berhasil membuktikan kesuciannya di hadapan Dewa Agni dengan cara
dibakar hidup-hidup.
Mengira hidupnya akan berakhir
bahagia sebagai pendamping Rama Wijaya sebagai permaisuri Negeri Ayodya,
ternyata Shinta salah. Penderitaan harus kembali ia rasakan. Setelah satu tahun
kembali hidup bersama, muncul desas-desus diantara rakyat negeri Ayodya yang
mempertanyakan kesucian dan kesetian permaisuri sang Raja. Rama Wijaya sangat
terganggu dengan kabar tersebut, walaupun istrinya telah membuktikan kesetiaan
kepadanya di depan Dewa Agni. Dan karena sudah tidak tahan dengan kecurigaan
dan kesangsian orang-orang di seluruh kerajaan atas kesetiaan istrinya, Rama
Wijaya akhirnya memerintahkan agar Shinta dibuang ke hutan di tepian sungai
Gangga. Leksmana, adik kandung Rama, yang diberi tugas untuk membuang Shinta
sebenarnya tidak tega dan melaksanakan perintah kakaknya tersebut. Namun perintah
tetaplah perintah, harus dijalankan walaupun dengan separuh hati.
Akhirnya leksmana berangkat
membawa kakak iparnya menuju ke Sungai Gangga. Dan setelah sampai di tempat
tujuan, leksmana kemudian menurunkan Shinta dan memberitahukan bahwa Sang Prabu
telah memerintahkan untuk membuang dirinya. Dewi Shinta, yang telah menjaga
kesetiaannya selama sebelas tahun di taman indah Argasoka akhirnya ditinggalkan
di dalam hutan. Sendiri, dalam keadaan sedang mengandung anak Rama Wijaya.
Batin Dewi
Shinta nelangsa. Dia teringat betapa dulu selama bertahun-tahun Rahwana
benar-benar memuliakannya, tanpa menyentuh sedikitpun apalagi menyakiti. Namun,
kini Dewi Shinta hanya bisa menyesali kemalangan nasibnya dan berusaha untuk
selalu berfikir positif tentang keputusan yang telah diambil oleh suaminya.
Dalam keheningan, Dewi Shinta
menghabiskan waktu dengan memberi wejangan kepada anak kembarnya yang masih ada
di dalam kandungan,
Lawa dan Kusya, Putraku…
Kelak, jadilah kalian ksatria sejati
Yang memiliki pandangan setajam
rajawali
Setajam pandangan prabu Rahwana
Yang lebih memilih kesejatian
Ketimbang mempersoalkan dirinya
Yang berwujud raksasa Dasamuka
Hadapi dan terimalah keutuhan
hidup
Dan kehidupan secara apa adanya
Menyeluruh jangan
sepenggal-penggal
Karena warna putih sinar
matahari
Sesungguhnya adalah kumpulan
puluhan warna
Termasuk yang hitam kelam…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar