Senin, 20 Januari 2014

Cinta Putih Rahwana

Dialah Rahwana, raja Alengkadireja yang lebih dikenal sebagai penguasa kegelapan. Semua hal buruk selalu dinisbatkan kepadanya. Bahkan semenjak lahir pun sudah dianggap sebagai anak haram, hasil hubungan yang tidak dikehendaki antara Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Wajahnya tak terhitung jumlahnya, berserakan tak beraturan. Sama sekali tak nampak indah di mata orang kebanyakan. Kelakuannya pun bisa dibilang kurang ajar, yaitu menculik istri orang selama bertahun-tahun. Sungguh tak elok dan tidak sesuai dengan tata laku kesopanan secara umum.

Namun, apapun kata orang tentang dirinya dan kedua orangtuanya, Rahwana tidak pernah ambil pusing. Dia mengenal betul siapa ayah dan ibunya dan meyakini bahwa mereka telah dijebak oleh para dewa yang sering berlaku licik, sehingga tumbuhlah benih yang mewujud dirinya. Toh, walaupun dikenal sebagai penguasa kegelapan, Rahwana mampu membawa negeri peninggalan kakeknya, Prabu Sumali, menjadi negeri yang makmur, aman, dan sejahtera. Bahkan semenjak usia 15 tahun dia telah menguasai ilmu Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang diwarisi dari sang ayah. Sebuah ilmu langka dan rahasia, konon hanya para dewa lah yang boleh tahu tentang ilmu tersebut.

Rahwana menganggap kalau jalan hidup dan perannya di dunia yang semu ini sudah diatur dan ditetapkan oleh Sang Hyang Widhi, sehingga apapun yang dikatakan orang dia tak peduli. Tak jadi soal ketika dia disebut sebaga Dasamuka penguasa kegelapan dan dimusuhi karena telah mencintai wanita yang telah bersuami, yaitu Dewi Sinta. Nampaknya Rahwana telah ikhlas menjalani takdirnya tersebut karena dia yakin bahwa kehidupan di dunia ini harus seimbang, tak boleh hanya ada putih di dalamnya.

Kekurangajarannya menculik Dewi Sinta pun juga bukan tanpa alasan, melainkan karena dorongan rasa cinta yang begitu besar kepada titisan Dewi Sri ini. Terbukti setelah menculik Dewi Sinta dari suaminya, Prabu Rama Wijaya, Rahwana tidak langsung menjamah atau menyekapnya, melainkan menempatkan Dewi Sinta di taman Argasoka. Konon taman Argasoka ini merupakan replika dari keindahan surga yang ada di kahyangan. Selama sebelas tahun Shinta dimuliakan di taman ini, tanpa dijamah sedikitpun apalagi disakiti oleh Rahwana. Setiap hari, selama bertahun-tahun Rahwana datang untuk menyatakan cinta kepada Shinta secara sopan, setiap hari pula hatinya remuk redam mendengar penolakan Shinta. Walaupun begitu tak sedikitpun sikap Rahwana berubah, cintanya terlalu tulus kepada istri penguasa negeri Ayodya tersebut. Dan walaupun tak henti-hentinya menolak tawaran Rahwana, diam-diam Shinta mengagumi kegigihan hati Rahwana sekaligus mempertanyakan sang suami yang tak kunjung menyelamatkannya.

Kegetiran hati Shinta mencapai puncaknya tatkala dia hanya mampu menolak tawaran Rahwana melalui gelengan pelan, tanpa kata dan tanpa suara. Bahkan air matanya sempat menitik tatkala mendengar suara raungan yang menggelegar ke seantero Alengkadireja. Suara kekecewaan dan ungkapan cinta tak berbalas dari seorang raksasa yang penuh cinta.

Wahai
Sang penguasa semesta
Adakah yang salah dari hamba?
Akulah Rahwana, Raja Alengkadireja
Negara adidaya dengan keamanan yang selalu terjaga
Rakyat Alengkadireja demikian aman, damai, dan sejahtera
Orang-orang dari negara manca
Kini datang dan bermukim di kerajaan Alengkadireja
Mengapa Alengkadireja seperti belum kunjung sempurna?

Aku tidak berniat mempersoalkan
Mengapa tela Engkau lahirkan diriku sebagai raksasa

Dari benih yang tertanam tidak dengan semestinya
Sosok menakutkan yang dibenci penghuni semesta
Dan ditakuti oleh para dewa di kahyangan
Aku Prabu Rahwana hanya mau bertanya
Salahkah bila aku memiliki keagungan Cinta?
Aku sudah sangat rela dan menerima
Jika dianggap anak jadah pembawa petaka
Yang tak punya santun merusak kahyangan para dewa
Tapi salahkah, bila aku mempertahankan Cinta?

Segala dunia telah aku injak dan kurasa
Aji dan ilmu rahasia telah terbenam dalam jiwa dan raga
Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu aku pun kuasa
Salahkah jika aku bersikukuh memelihara Cinta??

Bila Engkau, wahai Sang Penguasa Semesta…
Tidak memperkenankan Cinta yang kusemai dan pelihara
Mengapa Engkau tidak musnahkan saja keberadaannya
Bila Engkau juga menghendaki segalanya harus sempurna
Mengapa hamba hanya mendapatkan kegelapan semata?

Apakah karena aku lahir tanpa perkenan semesta
Lantas aku diharamkan untuk memiliki keagungan cinta?

Haaahh!!!!
Biarlah aku mati dicabik-cabik panah Rama Wijaya
Atau ditembus keris sakti Laksmana
Asalkan segenap semesta bersaksi dengan saksama
Aku memiliki Cinta Agung di dalam dada...

Hati wanita mana yang tak luluh mendengar pengakuan jujur dari seorang lelaki yang begitu ksatria dalam mengungkapkan cintanya, tak ada malu ataupun merasa rendah.  Shinta berusaha menutup telinganya, tapi percuma. Kata-kata Rahwana tersebut tidak meluncur ke telinganya, melainkan langsung menghujam ke jantungnya. Barangkali kini Shinta telah terjebak di wilayah yang sangat genting antara perasaan terdalamnya dan nilai-nilai moral serta kesetiaan yang mengikat dirinya sebagai wanita bersuami.

Dan akhirnya, lakon Rahwana sebagai penguasa kegelapan memang harus berakhir. Dengan bantuan dari pasukan kera Anoman dan penghianatan Gunawan Wibisana yang merupakan adik kandung Rahwana, Prabu Ramawijaya berhasil mengalahkan negeri Alengkadireja dalam peperangan brubuh. Sang Dasamuka sendiri harus kembali kepada Sang Penciptanya dengan diantar oleh panah Guhywawijaya, senjata pamungkas milik Prabu Rama. Dengan dimikian kembali lah Shinta ke pangkuan Rama setelah berhasil membuktikan kesuciannya di hadapan Dewa Agni dengan cara dibakar hidup-hidup.

Mengira hidupnya akan berakhir bahagia sebagai pendamping Rama Wijaya sebagai permaisuri Negeri Ayodya, ternyata Shinta salah. Penderitaan harus kembali ia rasakan. Setelah satu tahun kembali hidup bersama, muncul desas-desus diantara rakyat negeri Ayodya yang mempertanyakan kesucian dan kesetian permaisuri sang Raja. Rama Wijaya sangat terganggu dengan kabar tersebut, walaupun istrinya telah membuktikan kesetiaan kepadanya di depan Dewa Agni. Dan karena sudah tidak tahan dengan kecurigaan dan kesangsian orang-orang di seluruh kerajaan atas kesetiaan istrinya, Rama Wijaya akhirnya memerintahkan agar Shinta dibuang ke hutan di tepian sungai Gangga. Leksmana, adik kandung Rama, yang diberi tugas untuk membuang Shinta sebenarnya tidak tega dan melaksanakan perintah kakaknya tersebut. Namun perintah tetaplah perintah, harus dijalankan walaupun dengan separuh hati.

Akhirnya leksmana berangkat membawa kakak iparnya menuju ke Sungai Gangga. Dan setelah sampai di tempat tujuan, leksmana kemudian menurunkan Shinta dan memberitahukan bahwa Sang Prabu telah memerintahkan untuk membuang dirinya. Dewi Shinta, yang telah menjaga kesetiaannya selama sebelas tahun di taman indah Argasoka akhirnya ditinggalkan di dalam hutan. Sendiri, dalam keadaan sedang mengandung anak Rama Wijaya.
Batin Dewi Shinta nelangsa. Dia teringat betapa dulu selama bertahun-tahun Rahwana benar-benar memuliakannya, tanpa menyentuh sedikitpun apalagi menyakiti. Namun, kini Dewi Shinta hanya bisa menyesali kemalangan nasibnya dan berusaha untuk selalu berfikir positif tentang keputusan yang telah diambil oleh suaminya.

Dalam keheningan, Dewi Shinta menghabiskan waktu dengan memberi wejangan kepada anak kembarnya yang masih ada di dalam kandungan,

Lawa dan Kusya, Putraku…
Kelak, jadilah kalian ksatria sejati
Yang memiliki pandangan setajam rajawali
Setajam pandangan prabu Rahwana
Yang lebih memilih kesejatian
Ketimbang mempersoalkan dirinya
Yang berwujud raksasa Dasamuka
Hadapi dan terimalah keutuhan hidup
Dan kehidupan secara apa adanya
Menyeluruh jangan sepenggal-penggal
Karena warna putih sinar matahari
Sesungguhnya adalah kumpulan puluhan warna
Termasuk yang hitam kelam…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar