Hari ini, apa yang tidak bisa dikonsumsi
publik? Media punya kekuasaan mutlak dalam hal menentukan batasan-batasan yang
kian kabur tersebut. Mulai dari aib pejabat, ukuran BH artis, dan yang paling
banter diler-ler di hadapan publik
saat ini adalah salah satu rahmat Tuhan yang sangat indah, paha wanita.
Rahmat? Eits, jangan emosi dulu. Memang
kelihatan tabu mencampur-adukkan urusan paha dengan rahmat Tuhan, tapi marilah
berpikir realistis. Bukan kah paha wanita itu indah? Apalagi yang mulus-mulus. Itulah
rahmat Tuhan yang memancar kemana saja, ke siapa saja, tak peduli dengan kadar
ketakwaannya. Seperti halnya jika kita mencuri uang (ini hanya perumpamaan,
jangan dipraktekkan), lalu uang tersebut kita bawa ke soto Cak Har. Tetap enak
kan rasa soto itu? Ya, itulah rahmat. Tapi kalau ditanya barokah atau tidak
soto yang kita makan tersebut, itu masalah lain.
Kembali lagi ke masalah rahmat Tuhan
yang berupa paha wanita. Paha wanita merupakan realitas alam, keberadaannya tak
perlu lagi dipertanyakan. Karena jikalau Tuhan tidak bermurah hati menitipkan
keindahannya pada bagian tubuh wanita yang paling dekat dengan inti kehidupan
tersebut, mungkin populasi manusia tak akan bisa sebanyak ini. Peradaban
manusia pun terancam tak berkembang karena tidak ada motivasi. Seni dan budaya
juga akan mandek karena kurangnya inspirasi.
Keindahan paha tersebut
hanya akan menjadi barokah jika sudah disertifikasi. Apa bentuk sertifikatnya? Ya
surat nikah. Selain itu, paha yang dipamerkan tanpa sertifikat, entah itu di studio
film, di lokalisasi, maupun di ruang istirahat anggota DPR tentu saja tidak
barokah. Kalau kita bicara dalam konteks benar-salah dalam agama, maka “pameran”
tersebut adalah hal yang salah yang seharusnya tidak dilakukan.
Memang, dorongan nafsu dan
desakan ekonomi seringkali membuat manusia nekat melanggar term benar-salah dalam agama. Namun setidaknya, term elok-tidak elok dalam tata nilai
sosial selama ini telah melokalisir kesalahan tersebut sehingga tidak
ditunjukkan di hadapan publik. Rasa malu membuat para pemilik paha hanya mau
memamerkan kehormatannya tersebut di ruang-ruang private, paling banter ya
dipamerkan khusus untuk kalangan yang sengaja berbuat salah, seperti di sampul
majalah khusus dewasa maupun film-film biru yang juga tidak elok untuk dikonsumsi
berjamaah.
Namun, kuasa media nampaknya
telah mengantarkan peradabaan kita menuju sebuah era baru pengelolaan paha. Gempuran
budaya populer dari luar negeri telah habis-habisan melumpuhkan pondasi
nilai-nilai agama dan sosial remaja kita saat ini. Idola-idola baru yang
bermunculan dari negeri antah berantah di utara sana seolah mengajarkan “Hey anak muda Indonesia, ini loo pahaku,
mana pahamu?”. Dan entah karena silau atau karena tidak cukup uang untuk
membeli celana panjang, pemudi-pemudi kita pun ramai mengikuti seruan tersebut.
Bukan hanya pemudi, karena pemuda-pemuda pun juga telah abai dengan norma
sosial dengan tanpa malu secara berjamaah menikmati aksi tersebut.
Yang terjadi selanjutnya adalah harga paha
wanita menjadi semakin murah, bahkan lebih murah dari harga paha di
warung-warung penyetan sekitar kampus. Tidak lagi dijual di ruang-ruang private
atau studio film, melainkan diobral murah meriah di panggung hiburan umum, di
acara-acara yang berdimensi umum, dan ada pula yang benar-benar digratiskan,
siapapun boleh lihat. Pelakunya pun bukan lagi orang-orang yang telah matang
secara usia (baik wanita maupun pria), melainkan juga anak-anak usia SMP
berbadan bongsor yang barangkali tidak tahu betapa paha mulusnya itu telah sangat
membuat penasaran. Entah apa namanya fenomena ini, sudah pantaskah disebut
sebagai efek globalisasi paha?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar