Senin, 27 Januari 2014

Efek Globalisasi Paha

Hari ini, apa yang tidak bisa dikonsumsi publik? Media punya kekuasaan mutlak dalam hal menentukan batasan-batasan yang kian kabur tersebut. Mulai dari aib pejabat, ukuran BH artis, dan yang paling banter diler-ler di hadapan publik saat ini adalah salah satu rahmat Tuhan yang sangat indah, paha wanita.

Rahmat? Eits, jangan emosi dulu. Memang kelihatan tabu mencampur-adukkan urusan paha dengan rahmat Tuhan, tapi marilah berpikir realistis. Bukan kah paha wanita itu indah? Apalagi yang mulus-mulus. Itulah rahmat Tuhan yang memancar kemana saja, ke siapa saja, tak peduli dengan kadar ketakwaannya. Seperti halnya jika kita mencuri uang (ini hanya perumpamaan, jangan dipraktekkan), lalu uang tersebut kita bawa ke soto Cak Har. Tetap enak kan rasa soto itu? Ya, itulah rahmat. Tapi kalau ditanya barokah atau tidak soto yang kita makan tersebut, itu masalah lain.

Kembali lagi ke masalah rahmat Tuhan yang berupa paha wanita. Paha wanita merupakan realitas alam, keberadaannya tak perlu lagi dipertanyakan. Karena jikalau Tuhan tidak bermurah hati menitipkan keindahannya pada bagian tubuh wanita yang paling dekat dengan inti kehidupan tersebut, mungkin populasi manusia tak akan bisa sebanyak ini. Peradaban manusia pun terancam tak berkembang karena tidak ada motivasi. Seni dan budaya juga akan mandek karena kurangnya inspirasi.

Keindahan paha tersebut hanya akan menjadi barokah jika sudah disertifikasi. Apa bentuk sertifikatnya? Ya surat nikah. Selain itu, paha yang dipamerkan tanpa sertifikat, entah itu di studio film, di lokalisasi, maupun di ruang istirahat anggota DPR tentu saja tidak barokah. Kalau kita bicara dalam konteks benar-salah dalam agama, maka “pameran” tersebut adalah hal yang salah yang seharusnya tidak dilakukan.

Memang, dorongan nafsu dan desakan ekonomi seringkali membuat manusia nekat melanggar term benar-salah dalam agama. Namun setidaknya, term elok-tidak elok dalam tata nilai sosial selama ini telah melokalisir kesalahan tersebut sehingga tidak ditunjukkan di hadapan publik. Rasa malu membuat para pemilik paha hanya mau memamerkan kehormatannya tersebut di ruang-ruang private, paling banter ya dipamerkan khusus untuk kalangan yang sengaja berbuat salah, seperti di sampul majalah khusus dewasa maupun film-film biru yang juga tidak elok untuk dikonsumsi berjamaah.

Namun, kuasa media nampaknya telah mengantarkan peradabaan kita menuju sebuah era baru pengelolaan paha. Gempuran budaya populer dari luar negeri telah habis-habisan melumpuhkan pondasi nilai-nilai agama dan sosial remaja kita saat ini. Idola-idola baru yang bermunculan dari negeri antah berantah di utara sana seolah mengajarkan “Hey anak muda Indonesia, ini loo pahaku, mana pahamu?”. Dan entah karena silau atau karena tidak cukup uang untuk membeli celana panjang, pemudi-pemudi kita pun ramai mengikuti seruan tersebut. Bukan hanya pemudi, karena pemuda-pemuda pun juga telah abai dengan norma sosial dengan tanpa malu secara berjamaah menikmati aksi tersebut.

Yang terjadi selanjutnya adalah harga paha wanita menjadi semakin murah, bahkan lebih murah dari harga paha di warung-warung penyetan sekitar kampus. Tidak lagi dijual di ruang-ruang private atau studio film, melainkan diobral murah meriah di panggung hiburan umum, di acara-acara yang berdimensi umum, dan ada pula yang benar-benar digratiskan, siapapun boleh lihat. Pelakunya pun bukan lagi orang-orang yang telah matang secara usia (baik wanita maupun pria), melainkan juga anak-anak usia SMP berbadan bongsor yang barangkali tidak tahu betapa paha mulusnya itu telah sangat membuat penasaran. Entah apa namanya fenomena ini, sudah pantaskah disebut sebagai efek globalisasi paha?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar