Sabtu, 18 Januari 2014

Mahameru, Puncak Perjalanan (Go to Semeru Seri 4)

Rasa sakit karena berjuang hanyalah sementara, sedangkan rasa sakit karena putus asa akan berlangsung selamanya.

(anonymous)
Malam itu sangat gelap, tak ada terang lampu, hanya kelip bintang dan cahaya dari lampu senter kecil yang menerangi langkah kami. Di tengah hutan, di lereng gunung tertinggi di tanah Jawa, tempat para dewa bersemayam menurut epos Mahabaratha versi tanah air. Diiringi suara anjing hutan yang dalam pendengaranku lebih mirip suara lolongan serigala dalam film-film horor Eropa, kami bertekad untuk menuntaskan perjalanan yang telah kami mulai dua hari yang lalu. Inilah finalnya. Semua barang bawaan, tenda, dan tas carrier kami tinggal di pos Kalimati. Dalam pendakian final ini kami hanya membawa lampu senter, sedikit camilan, dan air minum satu botol untuk dua orang.

Langkah kami semua sangat hati-hati, menyusuri jalan setapak yang tak bisa kami lihat dapat kami rasakan kalau lebarnya tak lebih dari sejengkal sehingga kami harus berbaris satu banjar seperti ular. Berkali-kali kami berhenti sejenak kemudian berhitung, ada perasaan was-was, namun kemudian lega ketika hitungan sampai 25, sesuai dengan jumlah rombongan kami yang ingin menginjak pasir Mahameru. Semua fokus menghafalkan teman yang ada di depan dan di belakangnya masing-masing, tak ada yang boleh lengah. Aku misah ingat waktu itu di depanku ada Sylvi dan Dhimas kribo membututi rapat di belakangku.

Pukul 11 malam kami sudah sampai di Arcapada, sebuah tempat yang dipercaya terdapat dua patung (arca kembar) gaib berukuran besar yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Ahong yang bertindak sebagai pimpinan rombongan memerintahkan kami semua untuk beristirahat karena dirasa perjalanan terlalu cepat. Maka kami istirahat, berbaring, ngobrol setengah berbisik di tengah-tengah hawa dingin yang seakan-akan menembus tulang. Suara angin berdesir sangat keras, menimbulkan perasaan ngilu dan hening dalam pikiran. Semua perjalanan hidupku dari yang bisa kuingat sejak kecil seperti melintas di depan mataku, ada gambar bapak yang sedang tertawa melintas, kemudian hening, lalu muncul lagi keluarga kecil kami yang tengah berkumpul, kemudian hening lagi. Tak sadar ada setitik bening yang menetes di sudut mataku, mungkin alam bawah sadarku sangat merindukan kebersamaan itu.

Di sampingku, anak-anak sedang sibuk menghitung jutaan bintang yang memang sangat berkilau malam itu. Tak pernah kulihat yang seperti ini di belantara kota Surabaya. Sesekali terlihat bintang jatuh yang melesat sangat cantik, dan ternyata memang itulah yang mereka tunggu-tunggu. Semua diam dan membayangkan harapan yang ingin dicapainya. Ya, benar, di tengah hutan belantara ini kita seoalah dipaksa percaya dengan semua mitos yang sebelumnya kita anggap bodoh.

Pukul satu dini hari perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini suasana menjadi lebih mencekam karenasekelebat di kanan kiri kami banyak monumen-monumen peringatan. Monumen yang dibuat dan diletakkan oleh para sahabat yang kehilangan teman mendaki yang dicintainya, hilang atau ditemukan meninggal di tengah alam yang, selain indah, juga kejam ini. aku bergidik, tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain berdoa dan terus berjalan, mempercayakan sepenuhnya arah kaki pada teman di depanku.

Tak lama kemudian  kami sampai di cemoro tunggal yang merupakan batas vegetasi gunung Semeru. Setelah ini tak ada apa-apa lagi selain pasir dan batu dengan kemiringan tanah lebir dari 45 derajat. Dari sini rombongan kami mulai terpecah-pecah karena lalu lintas pendakian sangat ramai. Walaupun tak lagi berada di berada di pinggir jurang seperti di jalur Arcapada tadi, namun perjalanan setelah melewati cemoro tunggal ini juga tak kalah berbahaya. Banyak batu yang kelihatan kokoh, tapi sebenarnya rapuh dan runtuh ketika dijadikan pijakan. Kita harus sangat berhati-hati agar tidak mencelakakan pendaki yang berada di belakang kita. Dan cerita yang mengatakan bahwa pasir Semeru membuat orang mundur 1 langkah ketika mereka maju 3 langkah adalah bohong besar. Yang kurasakan saat itu adalah ketika aku maju 3 langkah seolah-olah aku sedang mundur 5 langkah. Sejenak aku tertidur ketika sedang beristirahat, yang di kemudian hari aku baru tahu kalau hal tersebut sangat berbahaya karena bisa saja kita akan terserang hipotemia.

Aku sadar bahwa tidurku cukup lama ketika aku tak melihat teman-temanku lagi di kanan kiri sedangkan puncak masih sangat jauh. Berjam-jam aku melangkah, hanya melangkah, aku tak berpikir apa-apa selain harus secepat mungkin mencapai puncak. Dari arah timur mulai muncul cahaya oranye yang sangat indah dan melenakan, aku tidak boleh berhenti! Ketika fajar mulai terbit aku mulai bisa melihat puncak Mahameru yang semakin dekat yang ternyata hanyalah ilusi. Satu jam lebih aku mendaki ternyata jarak yang kulihat tetap sama saja.
Foto ketika akan menyerah
Di tengah-tengah rasa lelah dan mulut yang terus menganga mencari tambahan oksigen, sekilas aku melihat ada beberapa orang yang bertayamum kemudian sholat subuh seadanya di kemiringan lereng puncak Mahameru. Ada perasaan takjub dan haru ketika melihat pemandangan tersebut, yaitu pemandangan orang-orang yang sedang ingin menaklukkan sang alam tapi bersamaan dengan itu juga mereka tetap menyembah Penciptanya. Indah sekali.

Hari sudah semakin terang, banyak pendaki yang sudah berbalik arah. Ada yang memang turun setelah mencapai puncak, ada pula yang turun karena menyerah karena pertimbangan tertentu, terlihat jelas bedanya dari sorot mata mereka. Tekadku mulai luntur, virus-virus yang bernama “berpikirlah realistis” mulai meracuni otakku, ditambah lagi perut yang juga meronta-ronta karena semalam hanya diisi beberapa sendok mie instan. Tak ada bekal, tak ada teman.

Baru saja kakiku melangkah turun karena bangunan tekad yang sudah roboh, ada seorang pendaki, yang tengah dalam perjalanan turun setelah mencapai puncak, bertanya “Gimana mas puncaknya? Keren kan?”

Kujawab saja dengan polos waktu itu “Saya belum sampai puncak mas, ini mau turun. Sudah siang.”

Dengan wajah terkejut pendaki pria yang mungkin sekitar tiga tahun usianya di atasku tersebut mendekat dan berkata “Sudah sampai sini kok mau turun. Ayo saya antar naik.”

Tanpa menunggu jawaban dariku di langsung menarik tanganku dengan paksa untuk kembali mendaki. Bangunan tekadku seketika mulai utuh kembali. Aku mendaki dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Menyala lagi mimpiku untuk mencium sang merah putih yang berkibar gagah di samping menumen peringatan Soe Hok Gie. Namun tetap saja stamina tak bisa berbohong.  Setelah beberapa lama menggandeng dan menyeret tanganku, pendaki yang menolongku tadi terus mendaki semakin cepat. Lama kelamaan aku tertinggal jauh sampai dia sudah tak terlihat lagi. Tapi tak mengapa, dia sudah sangat berjasa. Aku berpikir mungkin seperti itulah ciri-ciri calon penghuni surga, yaitu gemar membangkitkan harapan pada orang-orang yang tengah berputus asa.

Akhirnya sekitar pukul tujuh pagi aku berhasil mencapai puncak Mahameru, tertinggi di pulau Jawa, puncak tertinggi para dewa. Terlihat di bawah sana ada cucuran keringat, resiko kecelakaan, dan solidaritas pendaki yang mengantarkanku sampai disini. Ada rasa syukur yang membucah tak terkira, bukan hanya berhasil sampai ke puncak Mahameru, melainkan karena Tuhan mau bermurah hati menyelamatkan hambaNya yang lemah ini dari ganasnya alam bebas dan rasa penyesalan karena putus asa. Perjalanan ini bukan sekedar pendakian fisik, melainkan spiritual. Segala macam kesombongan tiba-tiba lenyap justru ketika kaki ini telah semakin tinggi mendekati langit.

Segera kucari teman-temanku yang sudah terlebih dulu sampai untuk menikmati keindahan ini bersama-sama. Puncak Mahameru, kawah jonggring saloka, monumen SOE HOK GIE, dan bendera merah putih lusuh yang gagah berkibar, seumur hidup kalian tak akan pernah mungkin kulupakan.
Monumen Soe Hok Gie, meninggal di puncak Semeru setelah menghirup gas beracun
Bendera paling gagah yang pernah aku lihat
Bersama kawan-kawan dan letupan jonggring saloka
(Bersambung ke seri 5)

Note : Cerita sebelumnya ada di seri 1seri 2, dan seri 3.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar