Malam itu sangat gelap, tak ada terang lampu, hanya kelip bintang dan cahaya dari lampu senter kecil yang menerangi langkah kami. Di tengah hutan, di lereng gunung tertinggi di tanah Jawa, tempat para dewa bersemayam menurut epos Mahabaratha versi tanah air. Diiringi suara anjing hutan yang dalam pendengaranku lebih mirip suara lolongan serigala dalam film-film horor Eropa, kami bertekad untuk menuntaskan perjalanan yang telah kami mulai dua hari yang lalu. Inilah finalnya. Semua barang bawaan, tenda, dan tas carrier kami tinggal di pos Kalimati. Dalam pendakian final ini kami hanya membawa lampu senter, sedikit camilan, dan air minum satu botol untuk dua orang.Rasa sakit karena berjuang hanyalah sementara, sedangkan rasa sakit karena putus asa akan berlangsung selamanya.
(anonymous)
Langkah kami semua sangat
hati-hati, menyusuri jalan setapak yang tak bisa kami lihat dapat kami rasakan
kalau lebarnya tak lebih dari sejengkal sehingga kami harus berbaris satu
banjar seperti ular. Berkali-kali kami berhenti sejenak kemudian berhitung, ada
perasaan was-was, namun kemudian lega ketika hitungan sampai 25, sesuai dengan
jumlah rombongan kami yang ingin menginjak pasir Mahameru. Semua fokus
menghafalkan teman yang ada di depan dan di belakangnya masing-masing, tak ada
yang boleh lengah. Aku misah ingat waktu itu di depanku ada Sylvi dan Dhimas
kribo membututi rapat di belakangku.
Pukul 11 malam kami sudah sampai
di Arcapada, sebuah tempat yang dipercaya terdapat dua patung (arca kembar) gaib
berukuran besar yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Ahong yang bertindak
sebagai pimpinan rombongan memerintahkan kami semua untuk beristirahat karena
dirasa perjalanan terlalu cepat. Maka kami istirahat, berbaring, ngobrol
setengah berbisik di tengah-tengah hawa dingin yang seakan-akan menembus
tulang. Suara angin berdesir sangat keras, menimbulkan perasaan ngilu dan
hening dalam pikiran. Semua perjalanan hidupku dari yang bisa kuingat sejak
kecil seperti melintas di depan mataku, ada gambar bapak yang sedang tertawa
melintas, kemudian hening, lalu muncul lagi keluarga kecil kami yang tengah
berkumpul, kemudian hening lagi. Tak sadar ada setitik bening yang menetes di sudut
mataku, mungkin alam bawah sadarku sangat merindukan kebersamaan itu.
Di sampingku, anak-anak sedang
sibuk menghitung jutaan bintang yang memang sangat berkilau malam itu. Tak pernah
kulihat yang seperti ini di belantara kota Surabaya. Sesekali terlihat bintang
jatuh yang melesat sangat cantik, dan ternyata memang itulah yang mereka tunggu-tunggu.
Semua diam dan membayangkan harapan yang ingin dicapainya. Ya, benar, di tengah
hutan belantara ini kita seoalah dipaksa percaya dengan semua mitos yang
sebelumnya kita anggap bodoh.
Pukul satu dini hari perjalanan
dilanjutkan kembali. Kali ini suasana menjadi lebih mencekam karenasekelebat di
kanan kiri kami banyak monumen-monumen peringatan. Monumen yang dibuat dan
diletakkan oleh para sahabat yang kehilangan teman mendaki yang dicintainya,
hilang atau ditemukan meninggal di tengah alam yang, selain indah, juga kejam
ini. aku bergidik, tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain berdoa dan terus
berjalan, mempercayakan sepenuhnya arah kaki pada teman di depanku.
Tak lama kemudian kami sampai di cemoro tunggal yang merupakan
batas vegetasi gunung Semeru. Setelah ini tak ada apa-apa lagi selain pasir dan
batu dengan kemiringan tanah lebir dari 45 derajat. Dari sini rombongan kami
mulai terpecah-pecah karena lalu lintas pendakian sangat ramai. Walaupun tak
lagi berada di berada di pinggir jurang seperti di jalur Arcapada tadi, namun
perjalanan setelah melewati cemoro tunggal ini juga tak kalah berbahaya. Banyak
batu yang kelihatan kokoh, tapi sebenarnya rapuh dan runtuh ketika dijadikan
pijakan. Kita harus sangat berhati-hati agar tidak mencelakakan pendaki yang
berada di belakang kita. Dan cerita yang mengatakan bahwa pasir Semeru membuat orang mundur 1
langkah ketika mereka maju 3 langkah adalah bohong besar. Yang kurasakan
saat itu adalah ketika aku maju 3 langkah seolah-olah aku sedang mundur 5
langkah. Sejenak aku tertidur ketika sedang beristirahat, yang di kemudian hari
aku baru tahu kalau hal tersebut sangat berbahaya karena bisa saja kita akan
terserang hipotemia.
Aku sadar bahwa tidurku cukup lama ketika aku tak melihat
teman-temanku lagi di kanan kiri sedangkan puncak masih sangat jauh. Berjam-jam
aku melangkah, hanya melangkah, aku tak berpikir apa-apa selain harus secepat mungkin
mencapai puncak. Dari arah timur mulai muncul cahaya oranye yang sangat indah
dan melenakan, aku tidak boleh berhenti! Ketika fajar mulai terbit aku mulai
bisa melihat puncak Mahameru yang semakin dekat yang ternyata hanyalah ilusi. Satu
jam lebih aku mendaki ternyata jarak yang kulihat tetap sama saja.
![]() |
| Foto ketika akan menyerah |
Di tengah-tengah rasa lelah dan mulut yang terus menganga
mencari tambahan oksigen, sekilas aku melihat ada beberapa orang yang
bertayamum kemudian sholat subuh seadanya di kemiringan lereng puncak Mahameru.
Ada perasaan takjub dan haru ketika melihat pemandangan tersebut, yaitu
pemandangan orang-orang yang sedang ingin menaklukkan sang alam tapi bersamaan
dengan itu juga mereka tetap menyembah Penciptanya. Indah sekali.
Hari sudah semakin terang, banyak pendaki yang sudah berbalik
arah. Ada yang memang turun setelah mencapai puncak, ada pula yang turun karena
menyerah karena pertimbangan tertentu, terlihat jelas bedanya dari sorot mata
mereka. Tekadku mulai luntur, virus-virus yang bernama “berpikirlah realistis”
mulai meracuni otakku, ditambah lagi perut yang juga meronta-ronta karena
semalam hanya diisi beberapa sendok mie instan. Tak ada bekal, tak ada teman.
Baru saja kakiku melangkah turun karena bangunan tekad yang
sudah roboh, ada seorang pendaki, yang tengah dalam perjalanan turun setelah
mencapai puncak, bertanya “Gimana mas puncaknya? Keren kan?”
Kujawab saja dengan polos waktu itu “Saya belum sampai puncak
mas, ini mau turun. Sudah siang.”
Dengan wajah terkejut pendaki pria yang mungkin sekitar tiga
tahun usianya di atasku tersebut mendekat dan berkata “Sudah sampai sini kok
mau turun. Ayo saya antar naik.”
Tanpa menunggu jawaban dariku di langsung menarik tanganku
dengan paksa untuk kembali mendaki. Bangunan tekadku seketika mulai utuh
kembali. Aku mendaki dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Menyala lagi mimpiku
untuk mencium sang merah putih yang berkibar gagah di samping menumen
peringatan Soe Hok Gie. Namun tetap saja stamina tak bisa berbohong. Setelah beberapa lama menggandeng dan
menyeret tanganku, pendaki yang menolongku tadi terus mendaki semakin cepat. Lama
kelamaan aku tertinggal jauh sampai dia sudah tak terlihat lagi. Tapi tak
mengapa, dia sudah sangat berjasa. Aku berpikir mungkin seperti itulah
ciri-ciri calon penghuni surga, yaitu gemar membangkitkan harapan pada
orang-orang yang tengah berputus asa.
Akhirnya sekitar pukul tujuh pagi aku berhasil mencapai puncak
Mahameru, tertinggi di pulau Jawa, puncak tertinggi para dewa. Terlihat di
bawah sana ada cucuran keringat, resiko kecelakaan, dan solidaritas pendaki
yang mengantarkanku sampai disini. Ada rasa syukur yang membucah tak terkira,
bukan hanya berhasil sampai ke puncak Mahameru, melainkan karena Tuhan mau
bermurah hati menyelamatkan hambaNya yang lemah ini dari ganasnya alam bebas
dan rasa penyesalan karena putus asa. Perjalanan ini bukan sekedar pendakian
fisik, melainkan spiritual. Segala macam kesombongan tiba-tiba lenyap justru
ketika kaki ini telah semakin tinggi mendekati langit.
Segera kucari teman-temanku yang sudah terlebih dulu sampai
untuk menikmati keindahan ini bersama-sama. Puncak Mahameru, kawah jonggring saloka, monumen SOE HOK GIE,
dan bendera merah putih lusuh yang gagah berkibar, seumur hidup kalian tak akan
pernah mungkin kulupakan.
![]() |
| Monumen Soe Hok Gie, meninggal di puncak Semeru setelah menghirup gas beracun |
![]() |
| Bendera paling gagah yang pernah aku lihat |
![]() |
| Bersama kawan-kawan dan letupan jonggring saloka |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar