Yo para kanca, dolanan neng
njaba
Padang mbulan, padange kayak
rina
Rembulane seng ngawe-awe
Ngelikake ojo turu sore-sore
Lirik lagu tersebut sering aku
dengar dari kakekku yang lahir di masa pra-kemerdekaan. Masih jelas dalam
ingatannya adalah ketika Jepang datang ke tanah air untuk menjajah waktu itu
kakek baru saja disunat, sehingga masih sempat merasakan hiruk pikuk perang
kemerdekaan dibalik kepolosan masa kecilnya. Beruntung sekali sewaktu kecil aku
dekat sekali dengan kakek, yang waktu itu masih belum terserang stroke.
Aku sering mendengarnya bercerita
bagaimana sewaktu remaja, kakek dan teman-teman sebayanya tidak pernah tidur di
rumah, melainkan di langgar-langgar, setelah lelah mengaji dan berlatih pencak
silat. Para orang tua, karena tidak ada hiburan lain, lebih sibuk menceritakan
dongeng-dongeng lokal seperti ande ande
lumut, blaru klinting, kancil nyolong timun, dan dongeng lain yang penuh
pesan moral kepada anak-anak yang masih kecil. Dan ketika bulan purnama tiba,
tanpa diperintah seluruh anak-anak keluar untuk bermain. Ada yang bermain
bentengan, petak umpet, egrang, dan
yang bisa dibilang ekstrim adalah sepak bola api. Tak mau kalah, para orang tua
juga ramai-ramai menggelar tikar sambil menikmati wedang, mereka menyebutnya sebagai jagong padang bulan.
![]() |
| Keceriaan padang bulan. |
Mendengar cerita-cerita tersebut
aku hanya bisa manggut-manggut sambil sedikit-sedikit membayangkan betapa
bahagia masa kanak-kanak yang pernah dialami kakekku. Dan tentu saja ada
perasaan iri ketika aku membandingkan dengan ‘kehidupan malam’ di masa
kanak-kanakku. Aku tidak pernah tidur di langgar kecuali pada hari-hari
tertentu di bulan ramadhan, dongeng-dongeng dan mitos lokal aku juga tak banyak
tahu. Apalagi saat bulan purnama, tak ada anak-anak bermain di luar, tak ada juga
orang tua yang merayakan jagong padang
bulan. Ada keceriaan yang semakin memudar dari generasi ke generasi. Entah apakah
itu merupakan efek samping dari kemajuan teknologi. Di malam hari, anak-anak
sebayaku dipaksa berdiam diri di kamar dengan seabrek Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah yang lebih mirip penjara yang mematikan potensi dan kreatifitas. Sedangkan
para orang tua juga lebih sibuk dengan sinetron yang dipancarkan oleh alat
pendongeng baru, bernama televisi. Untung nilai-nilai spiritual waktu itu masih
dianggap sakral, sehingga langgar-langgar masih tetap ramai oleh anak kecil
walaupun hanya sebatas sampai selesai waktu isya.
Namun, rasa iri tersebut kini
serta merta berubah menjadi rasa syukur yang tak terkira saat aku tumbuh dewasa
dan melihat betapa keringnya kehidupan anak kecil di masa sekarang. Jangan bicara
tentang padang bulan, tentang
bentengan, atau tentang dongeng ande-ande
lumut, karena hampir pasti mereka tidak tahu. Entah dimensi keceriaan macam
apa yang dinikmati oleh anak-anak masa kini. Kalau dulu, mungkin, keceriaan di
masa kecilku terenggut oleh televisi dan game sederhana, lalu bagaimana dengan
nasib keceriaan anak-anak masa sekarang di tengah gempuran teknologi yang
semakin menggila. Internet, game online dan gadget canggih telah mengalihkan pola
permainan kolektif anak-anak menjadi lebih individualistik dan eksklusif. Belum
lagi dengan tugas-tugas sekolah yang semakin menumpuk dan les-les mata pelajaran yang terpaksa
harus diikuti.
Ironis sekali, kemajuan teknologi
yang katanya untuk memudahkan kehidupan manusia harus ditebus dengan biaya yang
sangat mahal (dan sesungguhnya tak ternilai), yaitu waktu bermain dan bertumbuh
anak-anak. Di jaman sekarang, tak ada lagi waktu bagi anak-anak untuk bermain
bentengan atau petak umpet yang bisa melatih teamwork dan insting motorik mereka, tak ada waktu untuk
mendengarkan dongeng ande-ande lumut yang
menyiratkan pesan bahwa letak kecantikan/kebagusan bukanlah di fisik melainkan
di dalam hati. Yang ada tinggal kesibukan untuk mempersiapkan masa depan, yang
oleh para orang tua dan guru-guru, dibuat seolah-olah menyeramkan.
Tak
berani aku membayangkan bagaimana jadinya kelak jika anak-anak terus menerus
tumbuh dalam lingkungan yang kering. Tidak ada keceriaan yang tulus, semakin
berkurangnya waktu-waktu berkualitas dengan keluarga karena direnggut oleh
acara-acara televisi yang melenakan, juga memudarnya nilai spiritual serta
kedekatan kolektif dengan teman sebaya. Secepatnya, mereka harus diselamatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar