Kamis, 16 Januari 2014

Punahnya Padang Bulan

Yo para kanca, dolanan neng njaba
Padang mbulan, padange kayak rina
Rembulane seng ngawe-awe
Ngelikake ojo turu sore-sore

Lirik lagu tersebut sering aku dengar dari kakekku yang lahir di masa pra-kemerdekaan. Masih jelas dalam ingatannya adalah ketika Jepang datang ke tanah air untuk menjajah waktu itu kakek baru saja disunat, sehingga masih sempat merasakan hiruk pikuk perang kemerdekaan dibalik kepolosan masa kecilnya. Beruntung sekali sewaktu kecil aku dekat sekali dengan kakek, yang waktu itu masih belum terserang stroke.

Aku sering mendengarnya bercerita bagaimana sewaktu remaja, kakek dan teman-teman sebayanya tidak pernah tidur di rumah, melainkan di langgar-langgar, setelah lelah mengaji dan berlatih pencak silat. Para orang tua, karena tidak ada hiburan lain, lebih sibuk menceritakan dongeng-dongeng lokal seperti ande ande lumut, blaru klinting, kancil nyolong timun, dan dongeng lain yang penuh pesan moral kepada anak-anak yang masih kecil. Dan ketika bulan purnama tiba, tanpa diperintah seluruh anak-anak keluar untuk bermain. Ada yang bermain bentengan, petak umpet, egrang, dan yang bisa dibilang ekstrim adalah sepak bola api. Tak mau kalah, para orang tua juga ramai-ramai menggelar tikar sambil menikmati wedang, mereka menyebutnya sebagai jagong padang bulan.

Keceriaan padang bulan.
Mendengar cerita-cerita tersebut aku hanya bisa manggut-manggut sambil sedikit-sedikit membayangkan betapa bahagia masa kanak-kanak yang pernah dialami kakekku. Dan tentu saja ada perasaan iri ketika aku membandingkan dengan ‘kehidupan malam’ di masa kanak-kanakku. Aku tidak pernah tidur di langgar kecuali pada hari-hari tertentu di bulan ramadhan, dongeng-dongeng dan mitos lokal aku juga tak banyak tahu. Apalagi saat bulan purnama, tak ada anak-anak bermain di luar, tak ada juga orang tua yang merayakan jagong padang bulan. Ada keceriaan yang semakin memudar dari generasi ke generasi. Entah apakah itu merupakan efek samping dari kemajuan teknologi. Di malam hari, anak-anak sebayaku dipaksa berdiam diri di kamar dengan seabrek Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah yang lebih mirip penjara yang mematikan potensi dan kreatifitas. Sedangkan para orang tua juga lebih sibuk dengan sinetron yang dipancarkan oleh alat pendongeng baru, bernama televisi. Untung nilai-nilai spiritual waktu itu masih dianggap sakral, sehingga langgar-langgar masih tetap ramai oleh anak kecil walaupun hanya sebatas sampai selesai waktu isya.

Namun, rasa iri tersebut kini serta merta berubah menjadi rasa syukur yang tak terkira saat aku tumbuh dewasa dan melihat betapa keringnya kehidupan anak kecil di masa sekarang. Jangan bicara tentang padang bulan, tentang bentengan, atau tentang dongeng ande-ande lumut, karena hampir pasti mereka tidak tahu. Entah dimensi keceriaan macam apa yang dinikmati oleh anak-anak masa kini. Kalau dulu, mungkin, keceriaan di masa kecilku terenggut oleh televisi dan game sederhana, lalu bagaimana dengan nasib keceriaan anak-anak masa sekarang di tengah gempuran teknologi yang semakin menggila. Internet, game online dan gadget canggih telah mengalihkan pola permainan kolektif anak-anak menjadi lebih individualistik dan eksklusif. Belum lagi dengan tugas-tugas sekolah yang semakin menumpuk dan les-les mata pelajaran yang terpaksa harus diikuti.

Ironis sekali, kemajuan teknologi yang katanya untuk memudahkan kehidupan manusia harus ditebus dengan biaya yang sangat mahal (dan sesungguhnya tak ternilai), yaitu waktu bermain dan bertumbuh anak-anak. Di jaman sekarang, tak ada lagi waktu bagi anak-anak untuk bermain bentengan atau petak umpet yang bisa melatih teamwork dan insting motorik mereka, tak ada waktu untuk mendengarkan dongeng ande-ande lumut yang menyiratkan pesan bahwa letak kecantikan/kebagusan bukanlah di fisik melainkan di dalam hati. Yang ada tinggal kesibukan untuk mempersiapkan masa depan, yang oleh para orang tua dan guru-guru, dibuat seolah-olah menyeramkan.

Tak berani aku membayangkan bagaimana jadinya kelak jika anak-anak terus menerus tumbuh dalam lingkungan yang kering. Tidak ada keceriaan yang tulus, semakin berkurangnya waktu-waktu berkualitas dengan keluarga karena direnggut oleh acara-acara televisi yang melenakan, juga memudarnya nilai spiritual serta kedekatan kolektif dengan teman sebaya. Secepatnya, mereka harus diselamatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar