Hari sudah semakin siang. Kawah jonggring saloka juga sudah beberapa kali meletus, mengeluarkan semburan awan yang sangat indah dijadikan background foto. Kami semua harus cepat-cepat turun, karena setelah jam 9 pagi arah angin akan berubah dan membawa gas beracun ke arah puncak Mahameru. Gas beracun yang membuat Soe Hok Gie dan rekannya, Idhan Lubis, meregang nyawa dalam pendakian pertamanya di puncak setinggi 3676 meter di atas permukaan laut ini. Ya memang begitulah sifat sang alam, selalu menyimpan bahaya mematikan di setiap keindahannya.Segala hal yang tidak membunuh, hanya akan membuatmu menjadi lebih kuat.(anonymous)
Jam setengah delapan pagi, bersama
sembilan orang teman (teman-teman yang lain sudah turun ketika aku belum
mencapai puncak) aku mulai turun dengan perut keroncongan dan bibir yang kering
dan mulai pecah-pecah. Kabarnya perjalanan menuruni puncak Mahameru sampai ke
Arcapada hanya butuh waktu 3 jam. Sangat kontras jika dibandingkan perjalanan
naik yang harus aku tempuh hampir selama 7 jam dengan memaksimalkan fungsi
kedua kaki dan tanganku untuk merangkak. Rencananya di Arcapada aku ingin
meminta barang sepotong roti ke pendaki yang nge-camp disana untuk sekedar mengganjal perut, aku yakin mereka tak
akan keberatan.
Tapi kali itu Ahong yang memimpin perjalanan turun
mengambil jalan lain. Kami menyingkir ke kiri dari jalur utama, dia bilang akan
lebih cepat sampai. Waktu itu kami menurut saja karena memang belum pernah ke
Semeru sebelumnya. Awalnya kami menikmati perjalanan turun ini. Tak perlu susah
payah merangkak, tinggal tempelkan pantat ke pasir maka kita akan meluncur
sendiri ke bawah. Namun keceriaan tiba-tiba menjadi hening setelah 3 jam lebih
menuruni jalur pasir ini kami tak kunjung mencapai batas vegetasi. 4 jam, 5
jam, kami mulai panik. Dan setelah lebih dari 6 jam kami baru yakin kalau kami
telah tersesat. Saat itu aku baru menyadari bahwa gunung itu seperti kerucut. Ketika
di puncak, posisi berbeda 5 meter tak menjadi soal. Tapi jika kedua posisi
tersebut ditarik lurus ke arah bawah, maka jarak 5 meter tadi akan menjauh
sampai hitungan kilometer. Dan kenyataan buruk dari teori ruang bangun
sederhana itulah yang kini sedang kami alami.
Untuk kembali naik dan pindah ke
jalur yang semestinya sudah tidak mungkin, jarak sudah terlalu jauh dan
motivasi kami bisa dibilang sudah anjlok. Belum lagi kondisi fisikku yang mulai
menurun, badan meriang dan sudah beberapa kali muntah. Pening, sulit untuk
berpikir jernih.
Lalu kami memutuskan untuk
berbelok 90 derajat ke arah kanan agar bisa kembali ke jalur semula. Berbekal golok
dan tongkat kayu, kami menerobos apapun yang ada di depan kami saat itu. Ilalang
setinggi kepala dan jurang-jurang kami libas, yang penting ke arah kanan. Bergantian
salah seorang dari kami menjadi martir di depan sebagai pembuka jalan. Tidak
ada yang menyinggung perihal ular beracun atau binatang buas lain yang mungkin
saja mendiami hutan ini. Saat itu memang tak ada lagi yang kami takutkan selain
kelaparan dan dehidrasi jika terus menerus tersesat.
Tiga jam lebih, kami mulai putus
asa. Ilham (angkatan 2011) mulai
sering tertinggal jauh di belakang karena tertidur. Semua mulai hilang kesabaran.
Aku hanya bisa duduk termenung, menyesali kelancanganku yang tidak izin kepada
ibuk sebelum berangkat. Pasti beliau kawatir dan bertanya-tanya karena HPku
tidak bisa dihubungi.
Tapi menyerah bukan lah pilihan,
sekuat tenaga aku melakukan hal terakhir yang saat itu bisa kuusahakan,
berteriak minta tolong. Aku memanggil-manggil Mas Totok, Mas Ricky, Faris, siapapun yang terlintas ketika itu. Sambil
mengibarkan bendera HMI yang untungnya masih kubawa, kami semua berteriak minta
tolong.
Menjelang pukul empat sore, kami
mendengar sekilas suara sahutan. Tak jelas apa bunyinya, tapi serentak kami
melonjak kegirangan karena yakin itu suara manusia. Dengan saling berteriak
kami berkomunikasi, mereka mengarahkan kami untuk mengikuti petunjuknya. Kami menurut.
Dan akhirnya dari kejauhan bisa kulihat mereka adalah Mas Totok, Mas Ricky, Rendra Baak, serta beberapa orang yang tidak
kukenal. Setelah menuruni sebuah jurang lagi, akhirnya kami bisa bertemu dengan
para penyelamat kami yang juga membawa golok untuk membuka jalan ke arah suara
teriakan kami. Ada rasa syukur yang tak terkira, tak cukup dengan ucapan
hamdalah, ketika melihat kembali kawan-kawan yang lain di camp Kalimati. Takjub, ternyata Tuhan masih berkenan menyelamatkan
kami semua.
Setelah makan mie instan (lagi)
dan minum kopi panas aku mulai mengemasi tas carrierku. Tenda-tenda sudah dilipat, saat itu juga kami satu
rombongan, 28 orang, melanjutkan perjalanan turun. Sekitar pukul 8 malam kami
sampai di Ranu Kumbolo. Dan karena kondisi fisik beberapa dari kami yang sudah
drop karena kelelahan, maka diputuskan untuk menginap dulu di Ranu Kumbolo. Sayang,
aku tak ingat malam itu aku bermimpi apa.
| Foto terakhir di camp Kalimati |
| Seumur hidup, tak akan lupa pendakian ini. |
Paginya kami melanjutkan
perjalanan kembali, melewati jalur normal, tidak lagi aneh-aneh. Perjalanan yang
relatif lebih mudah, tidak ada kendala yang berarti. Bahkan setelah pos I aku
berlari-lari kecil sampai ke Ranu Pane. Lega sekali rasanya bisa kembali
melihat rumah-rumah penduduk, warung makanan, dan tentunya kamar mandi. Dengan truk
yang sama kami turun dari desa Ranu Pani menuju Pasar Tumpang, kemudian ke
terminal Arjosari, seperti rute awal.
Dalam perjalanan pulang ini tak
ada banyak pembicaraan diantara kami. Semua tengah sibuk merenungkan apa saja
yang selama 4 hari ini dilihat dan diamali. Menikmati keindahan alam yang masih
perawan, mendaki dengan penuh perjuangan melawan rasa takut dan putus asa, menjalin
solidaritas dan saling menjaga satu sama lain, serta pengalaman tersesat
berjam-jam di hutan tanpa air dan makanan. Ah, Tuhan, sungguh indah Kau atur
semua sekenario ini untuk kami.
Alhamdulillah Engkau ijinkan kami
melihat langsung keindahan alam Gunung Semeru,
Alhadulillah Engkau ijinkan kami merajut
mimpi bersama bintang-bintang jatuh di Arcapada,
Alhamdulillah Engkau ijinkan kami
menginjakkan kaki di puncak Mahameru yang penuh misteri,
Dan yang paling utama,
Alhamdulillah Engkau ijinkan kami
menunaikan misi utama kami, yaitu membawa 28 orang anggota rombongan secara
utuh, kembali ke Surabaya.
Alhamdulillah, memang segala puji hanya pantas Untuk-Mu. (tamat)
Note : Cerita sebelumnya ada di seri 1, seri 2, seri 3, dan Seri 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar