Beberapa tahun belakangan ini
sering muncul istilah yang bisa dibilang baru dan asing, yaitu religion violence. Kita sudah sering
mendengar kata religion, karena walau
masih banyak korupsi negeri ini terkenal religius. Masjid tersebar dimana, di
pojok-pojok setiap instansi pemerintah pasti ada. Gereja juga tidak sulit
ditemui, begitu juga tempat-tempat ibadah lainnya. Sedangkan violence, kita juga sudah terbiasa
dengan istilah tersebut, bahkan sudah sangat akrab. Dari jaman Belanda rakyat
kita sudah sering disiksa, pun begitu Londo
ireng yang berkuasa di kemudian hari juga masih hobi menyiksa dan membunuhi
anak bangsanya sendiri.
Tapi kalo religion violence? Rasanya kok aneh. Kenapa religion yang identik dengan kesucian, kemuliaan akhlak, dan
kesalehan sosial, bisa disandingkan dengan violence
yang merupakan perwujudan dari hilangnya rasa kemanusiaan, kemunduran
peradaban, dan keserakahan yang memuncak. Kontradiktif, ironis.
Kalo dulu tindakan violence sering dilakukan oleh penjajah
asing, pemerintah yang represif, dan pemilik modal yang serakah, kini kelompok
yang mengaku sebagai pencinta religion ikut
ambil bagian. Sudah tak terhitung kasus nyata yang terjadi dalam dasawarsa
belakangan ini. mulai dari bom bali, bom natal, bom kuningan, pengrusakan
tempat ibadah, pembantaian kelompok minoritas, dan, cukup! Tak sanggup lagi aku
menyebutkan. Terlalu menyakitkan.
Dan ironisnya, kelompok pelaku
kekerasan, seperti jaringan teroris, Front Pembela Islam, kelompok jihad, dan
kelompok lain yang begitu bangga ketika beraksi melakukan berbagai kerusakan. Di
tengah peran negara yang lemah dan tidak bisa diharapkan, mereka semakin
menjadi-jadi. Religion mereka jadikan
motivasi untuk memukul, menendang, dan meledakkan. Pelaku violence pun tinggal ongkang-ongkang
kaki, tugasnya sudah tergantikan oleh para pemburu tiket ke surga yang
dungu itu.
Entah siapa
yang salah? Karena setahuku religion (apapun
itu) sejatinya mengajarkan kebaikan. Semua pendiri religion
merupakan orang saleh yang justru harus menghadapi siksaan dari para pelaku
violence, yang seringkali melampaui
batas. Musa (Moshes) berjuang menyelamatkan kaum israel dari kekejaman Fir’aun
Mesir, Isa (Yesus) menentang rabi-rabi Yahudi yang menjadi kaki-tangan penjajah
Romawi, Nabi Muhammad SAW rela dimusuhi oleh kelompok jahiliah untuk menegakkan keadilan sosial, begitu juga dengan Budha
Gautama, Kong Hu chu, dan pemimpin-pemimpin agama lainnya.
Tapi kini,
pelaku violence adalah yang mengaku
pecinta religion itu sendiri. Dengan berbagai
dalih tentunya, mulai dari beda keyakinan, beda aliran, beda mahzab, dan lain
sebagainya yang seharusnya bisa diseleseikan dengan bijak. Bukankah komitmen
kepada keesaan Tuhan seharusnya melahirkan komitmen untuk menjaga kemanusiaan?
Bukankah menyakiti satu manusia (terlebih manusia yang lemah) sama saja dengan
menyakiti manusia seluruhnya?
Seandainya yang mereka lakukan adalah untuk membela Tuhan, maka seharusnya mereka tahu bahwa Tuhan itu maha besar, tak perlu dibela. Justru Tuhan lah yang menyelamatkan umatNya yang teraniya. Terbelahnya laut merah, diangkatnya Isa ke langit-Nya, serta campur tangan pasukan malaikat dalam perang badar hanyalah sedikit contoh dari kebesaran Tuhan, yang ironisnya, justru dikerdilkan oleh para pecinta religion tersebut.
Seandainya yang mereka lakukan adalah untuk membela Tuhan, maka seharusnya mereka tahu bahwa Tuhan itu maha besar, tak perlu dibela. Justru Tuhan lah yang menyelamatkan umatNya yang teraniya. Terbelahnya laut merah, diangkatnya Isa ke langit-Nya, serta campur tangan pasukan malaikat dalam perang badar hanyalah sedikit contoh dari kebesaran Tuhan, yang ironisnya, justru dikerdilkan oleh para pecinta religion tersebut.
Apakah pemimpin-pemimpin
mereka tak pernah mengajarkan pedoman dasar tersebut? Atau jangan-jangan semua violence itu dilakukan memang bukan untuk Tuhan. Lalu untuk apa? Uang? Popularitas? Atau sekedar nasi bungkus? Entah lah. Aku bertanya
pada mbah kakung, beliau malah balik
bertanya keheranan “Opo le?! Religion kok
violence?”






