Jumat, 17 Februari 2012

Diskusi Rutin Novel 'Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur'

 

Setelah mangalami kevakuman selama kurang lebih satu bulan, akhirnya kamis malam kemarin sebuah diskusi rutin untuk kader-kader HMI Sepuluh Nopember yang bertajuk Unlimited Group Discussion Sepuluh Nopember atau disingkat UGD Seno kembali diselenggarakan. Dan tema untuk UGD Seno malam kemarin adalah membedah sebuah novel kontroversial yang sebenarnya resensinya sudah pernah aku tampilkan di postingan sebelumnya, yang berjudul "Tuhan, Ijinkan Aku menjadi Pelacur" karya Muhadin M Dahlan atau akrab disapa Gus Muh. Selain karena judulnya, novel ini banyak menghadirkan kontroversi karena penggambaran institusi yang terkait dengan jalan cerita bisa ditebak dengan mudah. Seperti Kampus Barek, Kampus Matahari Terbit, Darul Islam, dan Keluarga Mahasiswa Islam.

Malam itu Akbar, seorang kader sekaligus sekretaris umum dari komisariat kapal bertindak sebagai pembawa wacana dengan aku sendiri yang menjadi moderator. Diskusi diawali degan pengantar singkat tentang isi novel tersebut. Diceritakan secara singkat terkait dengan perjalanan hidup tokoh utama yang bernama Nidah Kirani mulai ketika menjadi seorang muslimah yang taat dalam beribadah, sampai terjerumus ke dunia hitam yang tidak pernah diayangkannya sebelumnya. Nidah kirani, atau yang lebih sering disebut Kiran adalah seorang mahasiswa D3 di kampus Barek yang tinggal di pondok Ki Ageng. Di pondok ini, Kiran bersahabat dengan Mbak Rahmi yang lebih senior. Karena pengetahuan keagamaannya yang luas, Mbak Rahmi menjadi teman diskusi sekaligus tempat untuk bertanya bagi Kiran seputar masalah-masalah keislaman. Singkat cerita, secara tiba-tiba Mbak Rahmi pergi dengan hanya meninggalkan sepucuk surat selamat tinggal untuk Kiran. Hal tersebut tentu saja membuat Kiran shock, mahasiswi yang di masa kecilnya sangat sulit untuk disuruh sholat tersebut merasa tidak punya tempat lagi untuk berbagi. Lalu, di saat Kiran sedang dilanda kesepian itulah, muncul seorang ikhwan yang nantinya akan merubah jalan hidup Kiran menjadi sebuah kisah yang penuh liku-liku.

Ikhwan yang dikenalnya lewat sebuah kajian rutin keislaman di kampus itu mengenalkan Kiran ke sebuah gerakan bawah tanah yang bertujuan untuk mendirikan sebuah daulah Islam di indonesia. Dan setelah kurang lebih tiga tahun bergabung dengan gerakan tersebut, Kiran merasa kecewa karena menurutnya gerakan terebut sangat aneh, teman-teman dan seniornya  tidak memiliki militansi seperti yang dia bayangkan, dan untuk bertanya tentang sesuatu hal saja harus melalui birokrasi yang berbelit-belit. Bersama dengan empat jamaah lain yang sependapat dengannya, Kiran yang saat itu sudah melanjutkan kuliahnya di Kampus Matahari Terbit memutuskan untuk kabur, dan dimulailah babak baru kehidupan seorang mantan muslimah tersebut. Di tengah kekecewaannya yang mendalam tersebut, Kiran menyalurkannya dengan menantang Tuhan untuk melihatnya ketika sedang menggadaikan harga diri yang selama ini dijaganya, juga ketika dia memblejeti topeng-topeng kemunafikan lelaki yang dikenal terpandang. Bahkan akhirnya, Kiran menerima saja ketika dosen pembimbingnya, yang juga anggota DPR dari fraksi yang memperjuangkan syari’at Islam, untuk menjadi pelacur dengan sistem pembagian hasil yang telah ditentukan.

Kisah hidup yang sangat berliku tersebut membuat sebagian peserta diskusi bertanya-tanya, kok bisa terjadi hal seperti itu. Apalagi dari keterangan yang diberikan sang pengarang, kisah tersebut dibuat berdasarkan pada sebuah kisah nyata. Apa yang salah dengan Nidah Kirani? Gerakan islam macam apakah yang telah membuat seorang Nidah kirani kecewa? Lalu bagaimanakah sebenarnya konflik batin yang dialami Kiran kala itu?

Pertanyaan tersebut menimbulkan beberapa spekulasi dari sebagian peserta diskusi, diantaranya adalah, Kiran memang menjalani kehiduan hitamnya tersebut sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang pernah mengecewakannya. Dia sudah bosan mendekati tuhan dengan cara-cara biasa yang terkesan munafik dan hanya memikirkan penampilan luar, tetapi ketika dihadapkan pada nafsu birahi akan terbuka kedok yang sebenarnya. Hal tersebut sudah pernah dibuktikannya ketika berhasil ‘menodai’ para ketua aktivis mulai dari golongan kiri sampai kanan.

Lalu, pertanyaan yang lain timbul tentang gerakan macam apakah yang diikuti Nidah Kirani. Apakah gerakan yang dimaksud identik dengan gerakan NII (Negara Islam Indonesia) yang sangat menghebohkan beberapa waktu yang lalu. Dan apakah gerakan ini benar-benar ada? Karena disebutkan dengan jelas bahwa gerakan ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana demi kelancaran gerakan, seperti mencuri, merampok, bahkan melacurkan diri. Dari hasil diskusi, disepakati bahwa gerakan semacam ini memang benar-benar ada. Dan dari pengakuan anggota NII yang telah sadar dapat kita ketahui bahwa memang mereka diwajibkan untuk membayar iuran setiap minggu. Dan uang iuran ini boleh didapatkan dari mana saja, termasuk mencuri dan merampok uang milik orang-orang diluar gerakan, bahkan yang paling parah adalah para kadernya diperbolehkan untuk melacurkan diri demi mendapatkan uang iuran rutin gerakan. Hal-hal yang sangat tidak masuk akal ini didasarkan pada pemikiran bahwa menegakkan sebuah negara Islam merupakan sebuah kemuliaan yang boleh ditebus dengan melakukan dosa-dosa yang lebih kecil dibandingkan kemuliaan yang akan didapat.

Tentang langkah yang diambil Kiran untuk menumpahkan rasa kecewanya pada Tuhan tersebut tidak ada peserta diskusi yang berani membenarkan maupun menyalahkan. Hal ini dikarenakan ending cerita yang masih menggantung, tidak diketahui bagaimanakah akhir dari kisah hidup Kiran. Apakah dia mendapatkan adzab, atau justru mendapatkan kemuliaan karena telah berhasil mencintai Tuhannya, walaupun dengan cara yang bisa dikatakan tidak sesuai dengan syari’at. Hal tersebut masih menjadi tanda tanya karena akhir cerita yang tidak jelas, dan mungkin justru karena ketidakjelasan akhir cerita itulah yang membuat novel ini menarik.

Lalu, diskusi ditutup dengan penyampaian kesimpulan dari masing-masing peserta diskusi. Beberapa diantaranya adalah kita harus menilai dengan seksama tentang gerakan yang akan diikuti agar tidak terjebak pada sebuah gerakan ‘aneh’ seperti yang telah diikuti Kiran yang ujung-ujungnya justru berbuah kekecewaan. Selain itu, sebagai aktivis (dari aliran ideologi apapun) kita harus sering-sering menginstropeksi diri agar tidak terjebak pada kesombongan dan kemunafikan seperti yang telah terjadi kepada para ‘korban-korban’ Nidah Kirani. Lalu, mungkin yang harus diperhatikan lagi bagi para aktivis dakwah maupun gerakan Islam yang lain, selayaknya kita harus senantiasa ikhlas dalam beribadah sehingga tidak terjebak pada kekecewaan yang menyesatkan seperti yang telah dialami oleh tokoh utama dari novel Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur tersebut.

Oleh : Munirul I (HMI Teknik Kimia ITS)

4 komentar:

  1. Rul, sory akhir2 ini aku gk aktif...
    kayaknya seru yo kmaren...
    aku yo belajar cora-coret, follow balik yo rizalt4.blogspot.com

    BalasHapus
  2. iyo zal, ayo dolan2 neng korkom zal. seru kok.
    oke tak follow balik

    BalasHapus