Setelah mangalami kevakuman selama kurang
lebih satu bulan, akhirnya kamis malam kemarin sebuah diskusi rutin untuk
kader-kader HMI Sepuluh Nopember yang bertajuk Unlimited Group
Discussion Sepuluh Nopember atau disingkat UGD Seno kembali
diselenggarakan. Dan tema untuk UGD Seno malam kemarin adalah membedah sebuah
novel kontroversial yang sebenarnya resensinya sudah pernah aku tampilkan di
postingan sebelumnya, yang berjudul "Tuhan,
Ijinkan Aku menjadi Pelacur" karya Muhadin M Dahlan atau
akrab disapa Gus Muh. Selain karena judulnya, novel ini banyak menghadirkan
kontroversi karena penggambaran institusi yang terkait dengan jalan cerita bisa
ditebak dengan mudah. Seperti Kampus Barek, Kampus Matahari Terbit, Darul
Islam, dan Keluarga Mahasiswa Islam.
Malam itu Akbar, seorang kader sekaligus
sekretaris umum dari komisariat kapal bertindak sebagai pembawa wacana dengan
aku sendiri yang menjadi moderator. Diskusi diawali degan pengantar singkat
tentang isi novel tersebut. Diceritakan secara singkat terkait dengan
perjalanan hidup tokoh utama yang bernama Nidah Kirani mulai ketika menjadi
seorang muslimah yang taat dalam beribadah, sampai terjerumus ke dunia hitam
yang tidak pernah diayangkannya sebelumnya. Nidah kirani, atau yang lebih
sering disebut Kiran adalah seorang mahasiswa D3 di kampus Barek yang tinggal
di pondok Ki Ageng. Di pondok ini, Kiran bersahabat dengan Mbak Rahmi yang
lebih senior. Karena pengetahuan keagamaannya yang luas, Mbak Rahmi menjadi
teman diskusi sekaligus tempat untuk bertanya bagi Kiran seputar
masalah-masalah keislaman. Singkat cerita, secara tiba-tiba Mbak Rahmi pergi
dengan hanya meninggalkan sepucuk surat selamat tinggal untuk Kiran. Hal
tersebut tentu saja membuat Kiran shock, mahasiswi yang di masa
kecilnya sangat sulit untuk disuruh sholat tersebut merasa tidak punya tempat lagi
untuk berbagi. Lalu, di saat Kiran sedang dilanda kesepian itulah, muncul
seorang ikhwan yang nantinya akan merubah jalan hidup Kiran menjadi sebuah
kisah yang penuh liku-liku.
Ikhwan yang dikenalnya lewat sebuah kajian
rutin keislaman di kampus itu mengenalkan Kiran ke sebuah gerakan bawah tanah
yang bertujuan untuk mendirikan sebuah daulah Islam di indonesia. Dan setelah
kurang lebih tiga tahun bergabung dengan gerakan tersebut, Kiran merasa kecewa
karena menurutnya gerakan terebut sangat aneh, teman-teman dan seniornya
tidak memiliki militansi seperti yang dia bayangkan, dan untuk bertanya tentang
sesuatu hal saja harus melalui birokrasi yang berbelit-belit. Bersama dengan
empat jamaah lain yang sependapat dengannya, Kiran yang saat itu sudah melanjutkan
kuliahnya di Kampus Matahari Terbit memutuskan untuk kabur, dan dimulailah
babak baru kehidupan seorang mantan muslimah tersebut. Di tengah kekecewaannya
yang mendalam tersebut, Kiran menyalurkannya dengan menantang Tuhan untuk
melihatnya ketika sedang menggadaikan harga diri yang selama ini dijaganya,
juga ketika dia memblejeti topeng-topeng kemunafikan lelaki
yang dikenal terpandang. Bahkan akhirnya, Kiran menerima saja ketika dosen
pembimbingnya, yang juga anggota DPR dari fraksi yang memperjuangkan syari’at Islam,
untuk menjadi pelacur dengan sistem pembagian hasil yang telah ditentukan.
Kisah hidup yang sangat berliku tersebut
membuat sebagian peserta diskusi bertanya-tanya, kok bisa terjadi hal seperti
itu. Apalagi dari keterangan yang diberikan sang pengarang, kisah tersebut
dibuat berdasarkan pada sebuah kisah nyata. Apa yang salah dengan Nidah Kirani?
Gerakan islam macam apakah yang telah membuat seorang Nidah kirani kecewa? Lalu
bagaimanakah sebenarnya konflik batin yang dialami Kiran kala itu?
Pertanyaan tersebut menimbulkan beberapa
spekulasi dari sebagian peserta diskusi, diantaranya adalah, Kiran memang
menjalani kehiduan hitamnya tersebut sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada
Tuhan yang pernah mengecewakannya. Dia sudah bosan mendekati tuhan dengan
cara-cara biasa yang terkesan munafik dan hanya memikirkan penampilan luar,
tetapi ketika dihadapkan pada nafsu birahi akan terbuka kedok yang sebenarnya.
Hal tersebut sudah pernah dibuktikannya ketika berhasil ‘menodai’ para ketua aktivis
mulai dari golongan kiri sampai kanan.
Lalu, pertanyaan yang lain timbul tentang
gerakan macam apakah yang diikuti Nidah Kirani. Apakah gerakan yang dimaksud
identik dengan gerakan NII (Negara Islam Indonesia) yang sangat menghebohkan
beberapa waktu yang lalu. Dan apakah gerakan ini benar-benar ada? Karena
disebutkan dengan jelas bahwa gerakan ini menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan dana demi kelancaran gerakan, seperti mencuri, merampok, bahkan
melacurkan diri. Dari hasil diskusi, disepakati bahwa gerakan semacam ini
memang benar-benar ada. Dan dari pengakuan anggota NII yang telah sadar dapat
kita ketahui bahwa memang mereka diwajibkan untuk membayar iuran setiap minggu.
Dan uang iuran ini boleh didapatkan dari mana saja, termasuk mencuri dan
merampok uang milik orang-orang diluar gerakan, bahkan yang paling parah adalah
para kadernya diperbolehkan untuk melacurkan diri demi mendapatkan uang iuran
rutin gerakan. Hal-hal yang sangat tidak masuk akal ini didasarkan pada
pemikiran bahwa menegakkan sebuah negara Islam merupakan sebuah kemuliaan yang
boleh ditebus dengan melakukan dosa-dosa yang lebih kecil dibandingkan
kemuliaan yang akan didapat.
Tentang langkah yang diambil Kiran untuk
menumpahkan rasa kecewanya pada Tuhan tersebut tidak ada peserta diskusi yang
berani membenarkan maupun menyalahkan. Hal ini dikarenakan ending cerita
yang masih menggantung, tidak diketahui bagaimanakah akhir dari kisah hidup
Kiran. Apakah dia mendapatkan adzab, atau justru mendapatkan kemuliaan karena
telah berhasil mencintai Tuhannya, walaupun dengan cara yang bisa dikatakan
tidak sesuai dengan syari’at. Hal tersebut masih menjadi tanda
tanya karena akhir cerita yang tidak jelas, dan mungkin justru karena
ketidakjelasan akhir cerita itulah yang membuat novel ini menarik.
Lalu, diskusi ditutup dengan penyampaian
kesimpulan dari masing-masing peserta diskusi. Beberapa diantaranya adalah kita
harus menilai dengan seksama tentang gerakan yang akan diikuti agar tidak
terjebak pada sebuah gerakan ‘aneh’ seperti yang telah diikuti Kiran yang
ujung-ujungnya justru berbuah kekecewaan. Selain itu, sebagai aktivis (dari
aliran ideologi apapun) kita harus sering-sering menginstropeksi diri agar
tidak terjebak pada kesombongan dan kemunafikan seperti yang telah terjadi kepada
para ‘korban-korban’ Nidah Kirani. Lalu, mungkin yang harus diperhatikan lagi
bagi para aktivis dakwah maupun gerakan Islam yang lain, selayaknya kita harus
senantiasa ikhlas dalam beribadah sehingga tidak terjebak pada kekecewaan yang
menyesatkan seperti yang telah dialami oleh tokoh utama dari novel Tuhan
Ijinkan Aku Menjadi Pelacur tersebut.
Oleh :
Munirul I (HMI Teknik Kimia ITS)

Rul, sory akhir2 ini aku gk aktif...
BalasHapuskayaknya seru yo kmaren...
aku yo belajar cora-coret, follow balik yo rizalt4.blogspot.com
iyo zal, ayo dolan2 neng korkom zal. seru kok.
BalasHapusoke tak follow balik
sanggar
BalasHapusmantab gus mahfud
BalasHapus